WAHANANEWS.CO, Jakarta - Krisis energi kembali mengguncang Kuba setelah pemerintah setempat mengumumkan bahwa penerbangan internasional tidak lagi dapat mengisi bahan bakar di bandara-bandara negara itu akibat kelangkaan bahan bakar penerbangan, situasi yang dipicu tekanan politik dan ancaman tarif dari Amerika Serikat, Minggu (9/2/2026).
Kebijakan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang menjual minyak ke Kuba, langkah yang semakin mempersempit akses pulau Karibia itu terhadap pasokan energi global.
Baca Juga:
Gelap Gulita, Kuba Alami Pemadaman Listrik Nasional untuk Keempat Kalinya
Kepemimpinan Kuba menyampaikan bahwa negara tersebut akan mulai kehabisan bahan bakar penerbangan sejak Senin, kondisi yang berpotensi mengganggu operasional maskapai internasional yang melayani rute ke dan dari Kuba.
Informasi tersebut disampaikan oleh dua sumber yang dikutip kantor berita Spanyol EFE dan dilansir Anadolu.
Seluruh bandara internasional di Kuba diperkirakan terdampak oleh kelangkaan bahan bakar jet yang diproyeksikan dapat berlangsung hingga sekitar satu bulan.
Baca Juga:
Menko Yusril Sebut Pemerintah RI Wacanakan Pemulangan Hambali dari Guantanamo
Tekanan terhadap Kuba meningkat sejak operasi militer pemerintahan Trump pada Jumat (3/1/2026) yang ditujukan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, sekutu lama pemerintah Kuba.
Pada akhir Januari, Trump menerbitkan perintah eksekutif yang menyebut rezim Kuba sebagai ancaman yang “tidak biasa dan luar biasa” sehingga memerlukan deklarasi keadaan darurat nasional.
Trump menuding pelanggaran hak asasi manusia, sistem pemerintahan komunis, serta hubungan Kuba dengan China, Rusia, dan Iran sebagai faktor yang memperburuk ketidakstabilan regional.
“Pelanggaran HAM, pemerintahan komunis, dan hubungan dengan negara-negara tertentu telah berkontribusi pada ketidakstabilan regional melalui migrasi dan kekerasan,” ujar Trump dalam pengumuman kebijakan tersebut.
Ia juga menegaskan Amerika Serikat membuka opsi untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara yang secara langsung maupun tidak langsung memasok minyak ke Kuba.
“AS dapat mengenakan tarif pada negara-negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba,” kata Trump.
Menurut sumber yang dikutip Anadolu, Kuba hanya mampu memenuhi sekitar sepertiga kebutuhan energinya dari produksi dalam negeri.
Untuk memenuhi sisa kebutuhan, Kuba bergantung pada impor, terutama dari Meksiko dan dalam skala lebih kecil dari Rusia, sementara Venezuela menyumbang sekitar 30 persen dari total pasokan energi Kuba pada 2025.
Dalam menghadapi krisis tersebut, pemerintah Kuba meluncurkan rencana darurat ketat pada pekan ini.
Langkah-langkah tersebut meliputi penutupan sejumlah hotel, pengurangan jam operasional kantor publik dan rumah sakit, serta pelarangan penjualan solar guna bertahan tanpa impor minyak mentah dan turunannya.
Dampak krisis ini langsung terasa di sektor penerbangan internasional.
Maskapai Air Canada pada Senin (10/2/2026) menghentikan seluruh penerbangan ke Kuba dengan alasan kelangkaan bahan bakar penerbangan yang parah di negara tersebut.
Keputusan tersebut diambil setelah adanya peringatan resmi dari otoritas Kuba bahwa maskapai internasional mungkin tidak lagi dapat mengisi bahan bakar di bandara-bandara setempat.
“Air Canada menyatakan bahwa mulai hari ini menangguhkan layanan ke Kuba akibat kekurangan bahan bakar penerbangan yang masih berlangsung di pulau tersebut,” demikian pernyataan resmi maskapai yang dilansir Anadolu.
Maskapai tersebut menambahkan bahwa dalam beberapa hari ke depan akan mengoperasikan penerbangan tanpa penumpang ke arah selatan untuk menjemput sekitar 3.000 pelanggan yang sudah berada di Kuba dan membawa mereka kembali ke negara asal.
“Dalam beberapa hari ke depan, maskapai akan mengoperasikan penerbangan tanpa penumpang untuk menjemput sekitar 3.000 pelanggan yang saat ini berada di Kuba,” bunyi pernyataan tersebut.
Air Canada menyebut keputusan penghentian layanan diambil setelah adanya peringatan pemerintah Kuba terkait pasokan bahan bakar penerbangan yang dinilai tidak lagi dapat diandalkan.
Maskapai itu memproyeksikan bahwa bahan bakar penerbangan tidak akan tersedia secara komersial di bandara-bandara Kuba mulai Selasa (10/2/2026).
“Air Canada akan terus memantau situasi untuk menentukan waktu yang tepat dalam memulai kembali layanan normal ke Kuba di masa mendatang,” tambah maskapai tersebut.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]