WAHANANEWS.CO, Jakarta - Berkilauan di bawah sinar matahari, rudal hipersonik China yang dibawa menggunakan truk melintasi lapangan parade di Beijing mencuri perhatian publik dengan panjang 11 meter dan berat 15 ton, bertuliskan "DF-17", menandai tonggak baru persaingan senjata global.
Momen ini terjadi pada parade Hari Nasional China, Selasa (1/10/2019), dan Amerika Serikat sudah menyadari pengembangan senjata itu, yang kini terus ditingkatkan performanya hingga dapat melaju lima kali lebih cepat dari kecepatan suara dengan kemampuan manuver tinggi, menjadikan rudal itu sebagai senjata yang berpotensi mengubah taktik perang.
Baca Juga:
Rusia Gempur Ukraina dengan Rudal Hipersonik dari Jet Bomber Su-34
"Ini hanya satu komponen dari gambaran besar kontes geopolitik yang berkembang di antara aktor-aktor negara," ujar William Freer, peneliti keamanan nasional dari think tank Council on Geostrategy, menekankan perlombaan senjata hipersonik belum pernah terlihat sejak era Perang Dingin.
Upacara Beijing itu memicu spekulasi tentang meningkatnya ancaman teknologi hipersonik, dengan China memimpin diikuti Rusia, sementara Amerika Serikat mulai mengejar dan Kerajaan Bersatu masih tertinggal tanpa rudal hipersonik.
Freer menyebut China dan Rusia berhasil memimpin karena investasi besar sejak beberapa tahun lalu, sementara negara-negara Barat lebih fokus memerangi terorisme domestik dan pemberontakan internasional, sehingga kelahiran kembali kekuatan militer China luput dari perhatian.
Baca Juga:
Tegang! 12 Jet Tempur dan Bomber Korea Utara Dihadang 30 Jet Tempur Korsel
Negara lain juga ikut meramaikan persaingan, termasuk Israel dengan rudal hipersonik Arrow 3, Iran yang mengklaim meluncurkan rudal hipersonik ke Israel pada perang 12 hari Juni lalu, dan Korea Utara yang mengembangkan senjata hipersonik sejak 2021, sementara AS dan Kerajaan Bersatu mulai menguji teknologi mereka, termasuk senjata Dark Eagle AS yang dipuji sebagai simbol daya mematikan dan tekad militer.
Hipersonik berarti bergerak minimal lima kali kecepatan suara atau sekitar 6.208,8 km per jam, membuat rudal ini sulit dideteksi, dipantau, dan dicegat, dengan Avangard Rusia tercatat bisa mencapai Mach 27 (33.313,42 km per jam), walau biasanya di Mach 12 (14.805 km per jam) atau 3,2 km per detik.
Rudal hipersonik terbagi dua jenis, yaitu "boost-glide" yang diluncurkan roket melesat di atas atmosfer kemudian bermanuver turun ke target, dan rudal jelajah hipersonik yang terbang rendah untuk menghindari radar, keduanya menggunakan roket dan mesin scramjet, dengan hulu ledak nuklir atau konvensional, serta kemampuan bermanuver tak terduga untuk sulit dicegat.
"Dengan terbang di bawah radar, rudal itu bisa menghindari deteksi awal dan baru muncul di sensor di akhir fase terbang, membuat kesempatan mencegat sangat terbatas," ujar Patrycja Bazylczyk dari Missile Defence Project, menekankan perlunya sensor luar angkasa yang lebih kuat bagi negara-negara Barat.
Dalam skenario perang, muncul pertanyaan apakah serangan menggunakan hulu ledak nuklir atau konvensional, dengan Tom Sharpe, mantan Komandan Angkatan Laut Kerajaan Bersatu, menyatakan hipersonik tidak mengubah sifat perang, namun memperpendek kerangka waktu operasi, sehingga deteksi dan respons menjadi lebih menantang.
Beberapa pakar meyakini kehebohan soal hipersonik berlebihan, walau kecepatan dan kemampuan manuver membuat senjata ini efektif melawan target berharga, dan energi kinetiknya berpengaruh pada dampak serangan, meski masih ada cara bertahan dari serangan hipersonik dengan perlindungan kapal dan citra satelit terkini yang mahal.
Rusia dan China telah memimpin pengembangan, dengan Putin meluncurkan rudal Oreshnik Mach 10 pada November 2024 dan menekankan produksi massal Kinzhal yang diklaim tak bisa dicegat, sedangkan Avangard dianggap berpotensi menghadapi sistem pertahanan AS, meski kapasitas produksinya terbatas.
China menegaskan dominasinya dengan GDF-600 pada akhir 2024, kendaraan hipersonik dengan muatan 1.200 kilogram dan sub-munisi yang bisa mencapai Mach 7 (8.642 km per jam), sementara Kerajaan Bersatu mencoba mengejar ketertinggalan melalui uji coba propulsi besar-besaran kolaborasi dengan AS, namun masih membutuhkan bertahun-tahun hingga senjata siap.
Freer menekankan Barat harus fokus membangun pertahanan kuat sekaligus kemampuan menyerang balik sistem peluncuran musuh untuk membatasi kerusakan, dengan Tom Sharpe menambahkan bahwa kedua belah pihak masih sama-sama kesulitan dan belum ada yang sempurna dalam perlombaan hipersonik. (Sumber: BBC)
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]