China sendiri kembali menawarkan skema satu negara dua sistem, yang menjanjikan tingkat otonomi tertentu bagi Taiwan jika berada di bawah kendali Beijing, meskipun opsi ini tidak mendapat dukungan dari partai politik besar di Taiwan.
Pada Oktober lalu, kantor berita Xinhua bahkan telah merinci berbagai klaim manfaat ekonomi pasca-penyatuan, termasuk janji dukungan ekonomi dan penegasan bahwa wilayah tersebut harus dikelola oleh kelompok patriot.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Di sisi lain, Beijing tetap membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai Taiwan jika jalur damai tidak tercapai, menambah tekanan geopolitik yang sudah tinggi.
Langkah China ini juga dipengaruhi kondisi domestik, mengingat negara tersebut merupakan importir minyak terbesar di dunia yang sangat rentan terhadap gangguan pasokan global.
Pekan lalu, pemerintah China bahkan menghentikan ekspor bahan bakar hingga setidaknya akhir Maret sebagai langkah menjaga cadangan dalam negeri di tengah ketidakpastian global.
Baca Juga:
Libur Lebaran 2026 Berubah! IKN Disulap Jadi Wisata Masa Depan
Nilai ekspor bahan bakar China pada tahun lalu tercatat mencapai 22 miliar dollar AS atau sekitar Rp372,7 triliun, menunjukkan besarnya kepentingan energi dalam strategi ekonomi dan geopolitik Beijing.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.