WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tawaran sensitif datang dari Beijing saat krisis energi global memanas, China menjanjikan pasokan energi stabil kepada Taiwan di tengah bayang-bayang konflik Timur Tengah yang mengganggu rantai distribusi dunia, Jumat (20/3/2026).
Langkah ini tak berdiri sendiri karena dikaitkan langsung dengan dorongan politik agar Taiwan bersedia menerima skema penyatuan kembali dengan China, di saat banyak negara berlomba mencari sumber energi alternatif akibat terganggunya jalur pengiriman melalui Selat Hormuz.
Baca Juga:
Antisipasi Macet Parah, Jasa Marga Operasikan Tol Japek II Selatan, Gratis!
Selama ini Taiwan dikenal sangat bergantung pada impor energi, dengan sekitar sepertiga kebutuhan liquefied natural gas atau LNG berasal dari Qatar, sementara hingga kini pulau tersebut tidak memiliki impor energi dari China.
Pemerintah Taiwan menyatakan telah mengamankan pasokan alternatif untuk beberapa bulan ke depan, termasuk dari Amerika Serikat yang selama ini menjadi mitra utama dalam kerja sama strategis.
“Kami bersedia menyediakan energi dan keamanan sumber daya yang stabil dan andal bagi warga Taiwan, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih baik,” kata juru bicara Kantor Urusan Taiwan China Chen Binhua di Beijing.
Baca Juga:
Libur Lebaran 2026 Berubah! IKN Disulap Jadi Wisata Masa Depan
Ia menambahkan bahwa dukungan dari tanah air yang kuat akan memberikan perlindungan lebih baik terhadap ketahanan energi Taiwan, sekaligus memperkuat stabilitas pasokan di tengah gejolak global.
Namun demikian, hingga kini pemerintah Taiwan belum memberikan respons langsung terhadap tawaran tersebut, dengan sikap yang tetap konsisten menolak klaim kedaulatan Beijing atas wilayahnya.
Taipei menegaskan bahwa masa depan pulau sepenuhnya ditentukan oleh rakyatnya sendiri, bukan oleh tekanan atau tawaran dari pihak luar.