Sebagai alternatif, muncul gagasan pembentukan Reconstruction and Development Fund atau Dana Rekonstruksi dan Pembangunan yang bertujuan membantu pemulihan ekonomi Iran pascakonflik.
Melalui skema tersebut, berbagai negara dan investor akan berkontribusi dalam bentuk pinjaman, jalur kredit, maupun pembiayaan langsung untuk proyek-proyek pembangunan kembali.
Baca Juga:
Diduga Kirim Pesan Cabul, Mahasiswa Unnes Dijerat UU TPKS
Pendanaan tersebut akan digunakan untuk mendukung rehabilitasi berbagai fasilitas yang terdampak perang, seperti kilang minyak, bandara, jaringan transportasi, serta infrastruktur penting lainnya.
Meski demikian, dana tersebut belum akan dioperasikan sebelum kesepakatan damai resmi ditandatangani oleh kedua negara.
"Ini hanya akan terjadi setelah kesepakatan akhir ditandatangani. Selama 60 hari pengelola dana akan bekerja dengan masyarakat Iran dan investor, untuk merencanakan dan menentukan cakupan proyek," kata sumber tersebut.
Baca Juga:
Puluhan Petugas Berjibaku Padamkan Kebakaran di Sekolah Tokyo
Iran selama beberapa dekade terakhir dikenal sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Timur Tengah, namun minim investasi asing langsung akibat berbagai sanksi ekonomi yang diberlakukan Amerika Serikat dan komunitas internasional.
Apabila kesepakatan damai berhasil diwujudkan, dana investasi senilai US$300 miliar itu berpotensi menjadi salah satu suntikan modal asing terbesar yang pernah diterima Iran dalam sejarah modern negara tersebut.
[Redaksi: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.