Di TV
dan Radio Enikaas, dari 10 karyawan
wanita, 4 orang kini sudah tewas. Terlalu berbahaya bagi yang lain untuk bekerja.
"Ini
pertarungan antara ekstremis, teroris, dan orang-orang yang ingin membangun
kembali Afghanistan," kata Latifi.
Baca Juga:
Sidang Penculikan & Pembunuhan Kacab Bank, Oditur Militer Siapkan 17 Saksi
"Ekstremis
tidak menginginkan hal seperti ini," ujarnya, merujuk terhadap wanita yang bekerja di luar rumah.
"Mereka
(ekstremis) bilang wanita itu hanya perlu di rumah, untuk bekerja di
rumah," terangnya.
Selama
berbulan-bulan sekarang, kota-kota di Afghanistan telah diguncang oleh
gelombang pembunuhan.
Baca Juga:
Pelaku Pembunuh Cucu Mpok Nori Terancam Penjara Seumur Hidup
Selain
jurnalis, ada hakim dan aktivis hak asasi manusia juga yang menjadi korban,
banyak dari mereka adalah perempuan.
Tampaknya
upaya yang sangat disengaja untuk membungkam suara progresif dan liberal di
negara tersebut.
"Kami
adalah keluarga yang sangat miskin, tapi ayahnya membiayai dia untuk mengenyam
pendidikan," kata ibu Saadia, Sima.