"Dia
berharap suatu saat bisa membelikan kami rumah sendiri, karena ini rumah sewa,"
ujar Saadia mengenai putrinya.
"Dia
bermimpi membuat sesuatu dalam hidupnya dan melayani negaranya," ujarnya.
Baca Juga:
Sidang Penculikan & Pembunuhan Kacab Bank, Oditur Militer Siapkan 17 Saksi
"Tapi,
dia tidak bisa melakukan semua itu. Mimpinya terkubur bersamanya,"
ungkapnya.
Banyak
yang menyalahkan Taliban atas serentetan serangan yang terjadi, tetapi di
Jalalabad kelompok ISIS mengklaim sebagai pelaku penyerangan.
Haya
dan Nadia biasa membawa pertunjukan musik, tapi karena serangan pembunuhan yang
banyak menarget wanita, terpaksa mereka berhenti siaran.
Baca Juga:
Pelaku Pembunuh Cucu Mpok Nori Terancam Penjara Seumur Hidup
Banyak
jurnalis wanita telah meninggalkan pekerjaannya, tetapi Haya bertekad untuk
kembali bekerja ketika dia bisa.
"Menakutkan.
Ancamannya 100 persen nyata," kata Haya Habibi.
"Setiap
kali saya meninggalkan rumah, saya merasa saya tidak akan pernah kembali,"
ungkap Haya.