Menurut laporan tersebut, produksi uranium yang diperkaya "akan secara signifikan meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dapat dimiliki Korea Utara".
Temuan ini sejalan dengan penilaian IAEA pada Juni tahun lalu yang menyebut Korea Utara tengah membangun fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon yang dapat digunakan untuk menghasilkan material tingkat senjata.
Baca Juga:
Iran Setuju Hentikan Program Pengayaan Nuklir 5 Tahun, Tapi AS Minta 20
Pada Maret lalu, Grossi menyatakan tidak ada bukti perubahan signifikan di lokasi uji coba nuklir utama Korea Utara di Punggye-ri, namun fasilitas tersebut tetap dinilai siap digunakan untuk uji coba nuklir kapan saja.
Ia menegaskan bahwa program nuklir Korea Utara merupakan pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. "Pelanggaran yang jelas," kata Grossi, seraya menambahkan bahwa IAEA akan terus menjaga kesiapan untuk menjalankan perannya dalam memverifikasi program nuklir negara tersebut.
Korea Utara sendiri belum melakukan uji coba nuklir sejak 2017, namun terus menunjukkan kemajuan dalam teknologi misil dan memperluas persenjataannya, sejalan dengan komitmen Kim Jong-un pada Agustus lalu untuk melakukan "ekspansi nuklir yang pesat".
Baca Juga:
Negosiasi Damai Iran-AS Gagal, Ini Alasannya
Sementara itu, upaya diplomasi untuk menahan ambisi nuklir Pyongyang belum membuahkan hasil. Pertemuan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertamanya berakhir tanpa kesepakatan, diikuti memburuknya hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, sebelumnya memperingatkan bahwa Korea Utara kini mampu memproduksi material untuk 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun, sekaligus meningkatkan kemampuan rudal balistik jarak jauh.
"Pada suatu titik, Korea Utara akan mengamankan persenjataan nuklir yang diyakininya dibutuhkan untuk mempertahankan rezimnya, bersama dengan kemampuan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mengancam tidak hanya Amerika Serikat tetapi juga dunia yang lebih luas," ujar Lee pada Januari lalu.