WahanaNews.co | Keluarga Mahsa Amini meragukan laporan otoritas forensik Iran yang menyebut tewasnya Mahsa Amini (22) karena sakit terkait operasi tumor, bukan karena dipukul polisi saat ditahan.
Ayah Mahsa Amini, Amjad Amini, mengatakan, kepada kantor berita berbahasa Persia yang berbasis di London, Iran International, Sabtu (8/10), menolak laporan resmi tersebut.
Baca Juga:
Wuih, Jorok... Pria Iran Ini Tak Pernah Mandi Selama 60 Tahun!
"Saya melihat dengan mata kepala sendiri bahwa darah keluar dari telinga dan belakang leher Mahsa," tegasnya dikutip dari AFP.
Mahsa Amini yang berusia 22 tahun meninggal pada 16 September, tiga hari setelah mengalami koma menyusul penangkapannya di Teheran oleh polisi moral Iran karena memakai jilbab secara tidak benar.
Organisasi Forensik Iran mengatakan, "kematian Mahsa Amini tidak disebabkan oleh pukulan di kepala dan organ vital dan anggota tubuh".
Baca Juga:
Jual Jasa Operasi Plastik hingga Bayi Tabung, Iran Siap Pikat Wisatawan Medis Global
"Kematian Mahsa Amini terkait dengan operasi tumor otak pada usia delapan," jelas lembaga tersebut dalam sebuah pernyataan, Jumat (7/10).
Dugaan kematian Mahsa Amini karena siksaan polisi telah menyebabkan protes berdarah di Iran selama tiga minggu dan gelombang protes di berbagai negara.
Kemarahan atas kematian Mahsa Amini telah memicu gelombang protes terbesar yang mengguncang Iran dalam hampir tiga tahun belakangan, dan tindakan keras aparat yang telah menewaskan puluhan pengunjuk rasa dan banyak orang ditangkap. [qnt]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.