Ia tercatat sebagai anggota Dewan Penjaga Konstitusi, lembaga strategis yang memiliki kewenangan mengawasi undang-undang dan proses pemilihan umum di negara tersebut.
Selain itu, Arafi menjabat sebagai Kepala Seminari Islam di seluruh Iran yang memberinya pengaruh luas di kalangan ulama dan santri.
Baca Juga:
Konflik Meluas, Rudal Kheybar Shekan Kini Sasar Kantor PM Netanyahu
Rekam jejaknya sebagai anggota Majelis Ahli menjadikan dirinya figur yang dihormati dalam proses penentuan dan pengawasan kepemimpinan tertinggi negara.
Dalam Dewan Kepemimpinan Sementara, Arafi bertugas bersama Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Mahkamah Agung Iran untuk menjaga stabilitas pemerintahan.
Dewan tersebut dibentuk guna memastikan keberlangsungan pemerintahan di tengah gempuran militer Amerika Serikat dan Israel yang meningkatkan eskalasi konflik.
Baca Juga:
Berita Dana Desa Muara Cuban Fiktif, Kades: Itu Tuduhan Tidak Mendasar dan Bohong
Kehadiran Arafi di dalam dewan dinilai sebagai langkah strategis untuk meredam kekhawatiran faksi konservatif dan kelompok religius di dalam negeri.
Di sisi lain, laporan mengenai meningkatnya serangan di ibu kota Teheran menyebut sejumlah fasilitas penting, termasuk lokasi yang diduga terkait para pemimpin transisi, menjadi sasaran.
Informasi mengenai dugaan gugurnya Arafi pertama kali beredar luas melalui media sosial internasional dan forum diskusi geopolitik sebelum akhirnya memicu perhatian global.