WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik memuncak saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kemarahan terbuka kepada negara-negara sekutu yang menolak permintaannya membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz, di tengah perang yang kian meluas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Penolakan tersebut terjadi ketika situasi keamanan di kawasan Timur Tengah memburuk drastis, sementara jalur vital perdagangan energi dunia itu praktis lumpuh setelah diklaim berada di bawah kendali penuh pasukan Garda Revolusi Iran.
Baca Juga:
Kontroversi Trump: Iran Disebut Habis Tenaga tapi Masih Dipersilakan ke Piala Dunia
“Amerika Serikat telah diberi tahu oleh sebagian besar ‘sekutu’ NATO kami bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam operasi militer kami melawan rezim teroris Iran di Timur Tengah,” tulis Trump dalam pernyataannya di Truth Social, Rabu (18/3/2026).
Trump menyoroti inkonsistensi sikap negara-negara sekutu yang sebelumnya sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, namun kini enggan mengambil bagian dalam operasi militer yang dipimpin Washington.
Ia juga menyindir keras hubungan dalam aliansi NATO yang dinilainya tidak adil dan cenderung merugikan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Serangan 30 Bom ke Teheran, Trump Umumkan Khamenei Tewas
“Saya selalu menganggap NATO, di mana kita menghabiskan ratusan miliar dolar setiap tahun untuk melindungi negara-negara ini, sebagai jalan satu arah,” ujarnya.
Dalam pernyataan lanjutan, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat selama ini lebih banyak memberi perlindungan dibanding menerima dukungan dari sekutu.
“Kita melindungi mereka, tetapi mereka tidak melakukan apa pun untuk kita, terutama di saat dibutuhkan,” tambahnya.