Dalam sebuah pernyataan pers semalam, mengatakan bahwa langkah itu merupakan perombakan terbesar dalam pertahanan kolektif Perang Dingin. Ia juga mengatakan serangan Rusia ke Ukraina merupakan ancaman langsung bagi aliansi itu.
"KTT NATO kami di Madrid minggu ini akan transformatif dengan banyak keputusan penting, termasuk tentang Konsep Strategis baru untuk realitas keamanan baru," katanya.
Baca Juga:
Utusan Khusus Rusia Kirill Dmitriev Umumkan Pembicaraan dengan Perwakilan Pemerintahan Trump
"Kami akan mengubah Pasukan Respons NATO dan meningkatkan jumlah pasukan kesiapan tinggi kami menjadi lebih dari 300.000," tambahnya.
Angka ini sendiri merupakan peningkatan yang cukup besar hingga hampir 650%. Sebelumnya, pasukan siaga NATO hanya berjumlah 40 ribu personil.
"Pasukan ini akan berlatih bersama dengan pasukan pertahanan dalam negeri, dan mereka akan terbiasa dengan fasilitas medan lokal ... sehingga mereka dapat merespons dengan lancar dan cepat terhadap keadaan darurat apa pun."
Baca Juga:
Siap Kuasai Udara, Rusia Tampilkan Prototipe Senjata Laser Antidrone
Sebelumnya, negara-negara Baltik anggota aliansi NATO seperti Lithuania, Estonia, dan Latvia merasa bahwa Rusia bisa saja menyerang mereka.
Khusus Lithuania, negara itu sedang bersitegang terkait pelarangan perlintasan kereta Rusia yang ingin melaju ke wilayah enklave milik Moskow di Laut Baltik, Kaliningrad.
Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri meluncurkan serangan ke Ukraina 24 Februari lalu. Serangan ini diluncurkan saat Kyiv sedang berusaha untuk bergabung dalam aliansi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) itu.