WAHANANEWS.CO - Iran menegaskan akan tetap memegang kendali atas Selat Hormuz pascaperundingan dengan Amerika Serikat di Swiss, sekaligus menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.
Pernyataan itu disampaikan Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf setelah mengikuti pembicaraan dengan Amerika Serikat yang membahas upaya mengakhiri konflik serta menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Baca Juga:
Gelombang Panas Eropa, 2 Anak di Prancis Tewas Dalam Mobil
Dalam putaran pertama perundingan yang berlangsung di Swiss pada Senin (22/6/2026), Iran dan Amerika Serikat disebut mencapai kesepakatan untuk membangun jalur komunikasi guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka dan mengakhiri pertempuran di Lebanon.
"Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi sebelum perang dan akan dikelola oleh Republik Islam Iran, sesuai dengan hukum internasional," kata Ghalibaf saat kembali dari pertemuan tersebut, Selasa (23/6/2026).
Dalam video yang diunggah ke akun Telegram pribadinya, Ghalibaf menyebut pertemuan yang berlangsung di kawasan resor Burgenstock, Swiss, menghasilkan sejumlah kemajuan penting.
Baca Juga:
Pengakuan Mengejutkan Kakek Pembacok Tetangga: Saya Lihat Genderuwo
"Menurut saya, perjalanan ini menghasilkan pencapaian yang baik, terutama mengenai diskusi tentang Selat Hormuz, diskusi tentang Lebanon, masalah pengecualian minyak, dan masalah pencairan dana yang dibekukan," ujar Ketua Parlemen Iran tersebut.
Salah satu hasil pembicaraan itu adalah keputusan Amerika Serikat untuk sementara menangguhkan sanksi terhadap minyak Iran.
Langkah tersebut diambil setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan Teheran bersedia kembali menerima inspektur nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan pengawasan.
Sebagai bagian dari kesepakatan yang dibahas, Iran juga berpeluang memperoleh sejumlah bentuk keringanan sanksi dari Washington serta pencairan aset yang sebelumnya dibekukan.
"Tentu saja, kita percaya bahwa kita masih berada di awal pekerjaan ini dan harus melanjutkan upaya kita," imbuh Ghalibaf.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Ghalibaf sempat melakukan kunjungan ke Oman yang merupakan negara tetangga sekaligus berbagi wilayah perairan Selat Hormuz.
Sebelumnya, jalur pelayaran vital tersebut sempat ditutup Iran pada awal konflik yang terjadi di kawasan.
Selat Hormuz kemudian dibuka kembali pekan lalu setelah tercapainya kesepakatan awal antara Teheran dan Washington.
Namun, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026) sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.
Usai pertemuan di Swiss, Teheran dan Washington kembali mencapai kesepahaman untuk membangun jalur komunikasi guna mencegah insiden maupun kesalahpahaman yang dapat mengganggu keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran tersebut memiliki peran strategis karena menjadi lintasan bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]