"Dari sudut pandang geopolitik, pemilu akan memperkuat pengejaran kebijakan luar negeri independen Turki baru-baru ini," kata kepala ahli strategi geopolitik Matt Gertken di BCA Research.
Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan strategis maksimum dari negara-negara timur dan otokratis sembari tetap mencegah putusnya hubungan permanen dengan demokrasi barat.
Baca Juga:
Indonesia dan Turki Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Ekspor Komoditas Pertanian
"Ketegangan dengan Barat kemungkinan akan meningkat lagi, dalam kerangka itu, sekarang Erdogan memiliki mandat baru," ujarnya.
Masalah Ekonomi
Erdogan menyatakan pengentasan masalah ekonomi negara akan menjadi prioritas pertama dengan inflasi mencapai 43,70 persen yang sebagian dipicu kebijakan pemotongan suku bunga yang tidak ortodoks untuk merangsang pertumbuhan.
Baca Juga:
Trump Tegaskan Warga Palestina yang Pergi dari Gaza Tak Bisa Kembali
Pada Sabtu malam, Erdogan dijadwalkan mengumumkan kabinet barunya. Sejumlah media berspekulasi bahwa mantan menteri keuangan Mehmet Simsek merupakan seorang tokoh internasional yang menenteramkan hati, dapat berperan dalam kabinet tersebut.
Mantan ekonom Merrill Lynch, Simsek diketahui menentang kebijakan Erdogan yang tidak konvensional.
Dia menjabat sebagai menteri keuangan antara 2009 dan 2015 dan wakil perdana menteri yang bertanggung jawab atas ekonomi hingga 2018, sebelum mengundurkan diri menjelang serangkaian kehancuran lira tahun itu.