WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kelompok Hizbullah kembali menegaskan sikapnya untuk tidak melucuti persenjataan sebelum Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon.
Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, di tengah meningkatnya tekanan internasional yang mendorong kelompok itu menyerahkan senjatanya kepada negara.
Baca Juga:
Media AS Ramai-ramai Serang Trump, Kesepakatan Damai Iran Disebut Untungkan Teheran
Menurut Qassem, pembahasan mengenai pelucutan senjata tidak dapat dilakukan selama Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah titik strategis di wilayah Lebanon selatan.
Ia menilai langkah tersebut menjadi syarat utama sebelum proses dialog lebih lanjut dapat dilaksanakan.
Hizbullah juga menuntut penghentian seluruh operasi militer Israel di wilayah Lebanon, pembebasan warga Lebanon yang ditahan, serta percepatan proses pembangunan kembali kawasan yang terdampak konflik bersenjangan antara kedua pihak.
Baca Juga:
Damai dengan AS, Iran Berpeluang Kantongi Dana Investasi Rp5.342 Triliun
Tuntutan tersebut disebut sebagai bagian dari langkah awal untuk menciptakan situasi yang kondusif menuju penyelesaian konflik.
Dalam pernyataannya, Qassem menegaskan bahwa senjata yang dimiliki Hizbullah masih diperlukan untuk mempertahankan wilayah Lebanon dari ancaman serangan Israel.
"Bagaimana kami bisa menghadapi Israel ketika ia menyerang kami jika kami tidak memiliki senjata? Siapa yang akan mencegah Israel memasuki desa-desa dan membunuh kaum muda, wanita serta anak-anak di dalam rumah mereka kecuali kami memiliki senjata dan kemampuan yang setidaknya mampu melakukan pertahanan?" kata Qassem.
Ketegangan antara Israel dan Hizbullah masih terus berlangsung meski gencatan senjata telah beberapa kali diupayakan.
Pemerintah Lebanon menuding Israel berulang kali melanggar kesepakatan penghentian konflik melalui serangan udara maupun operasi militer di wilayah perbatasan.
Qassem juga menyoroti keberadaan pasukan Israel yang masih bertahan di sejumlah lokasi strategis. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap kedaulatan Lebanon belum sepenuhnya berakhir.
"Bagaimana Anda bisa mengharapkan kami untuk tidak berdiri tegar sementara Israel melanjutkan agresinya, terus menduduki lima titik, dan terus memasuki wilayah kami dan membunuh? Kami tidak akan menjadi bagian dari legitimasi pendudukan di Lebanon dan kawasan ini," ujarnya.
Sementara itu, Amerika Serikat dan sejumlah pihak internasional terus mendorong upaya pelucutan senjata Hizbullah sebagai bagian dari langkah menjaga stabilitas kawasan.
Namun, pemerintah Lebanon menilai proses tersebut tidak mudah dilakukan selama persoalan pendudukan wilayah dan pelanggaran gencatan senjata masih menjadi sumber ketegangan.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa isu pelucutan senjata merupakan persoalan yang sangat sensitif dan membutuhkan pendekatan politik yang hati-hati.
Pemerintah Lebanon juga menilai penarikan penuh pasukan Israel menjadi faktor penting dalam menciptakan kondisi yang memungkinkan tercapainya solusi jangka panjang.
Konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah terus memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Berbagai upaya diplomasi masih berlangsung untuk mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan, meski hingga kini kedua pihak masih mempertahankan posisi masing-masing terkait isu keamanan dan kedaulatan wilayah.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]