WAHANANEWS.CO, Jakarta - Serangan masif Amerika Serikat dan Israel belum melumpuhkan kekuatan rudal Iran, karena intelijen terbaru justru menunjukkan kemampuan itu masih bertahan.
Penilaian intelijen Amerika Serikat mengungkap Iran tetap mempertahankan sebagian besar kemampuan rudalnya meskipun telah dihantam serangan intensif selama berminggu-minggu.
Baca Juga:
Iran Catat Rekor Dunia, Internet Mati 37 Hari Nonstop
Laporan tersebut dipublikasikan pada Sabtu (4/4/2026) dan mengutip pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen rahasia.
Menurut para pejabat tersebut, Iran mampu dengan cepat memulihkan bunker dan silo rudal bawah tanah yang rusak akibat serangan.
Kemampuan ini memungkinkan sistem peluncur kembali aktif hanya dalam hitungan jam setelah dihantam.
Baca Juga:
Iran Jatuhkan Dua Jet Tempur AS dalam Sehari, Termasuk A-10 Warthog
Selain itu, Iran juga disebut masih memiliki stok rudal dalam jumlah besar serta platform peluncur bergerak yang memperkuat daya tahannya.
Temuan ini dinilai bertolak belakang dengan narasi publik dari Washington yang menekankan keberhasilan besar kampanye militer mereka.
Pemerintah AS sebelumnya menyatakan sekitar 11.000 target telah dihantam di seluruh wilayah Iran dalam lima pekan konflik.
“Berikut fakta-faktanya: serangan rudal balistik dan drone Iran turun 90%, angkatan laut mereka hancur, dua pertiga fasilitas produksi mereka rusak atau hancur, dan Amerika Serikat dan Israel memiliki dominasi udara yang luar biasa atas Iran,” kata Anna Kelly.
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi resmi Gedung Putih yang menyoroti keberhasilan signifikan dalam menekan kapasitas militer Iran.
Menteri Pertahanan AS juga menekankan penurunan intensitas serangan dari pihak Iran dalam beberapa waktu terakhir.
“Ya, mereka masih akan menembakkan beberapa rudal, tetapi kami akan menembak jatuh mereka,” ujar Pete Hegseth.
Ia menambahkan bahwa dalam 24 jam terakhir jumlah serangan Iran berada pada titik terendah sejak konflik berlangsung.
“Perlu dicatat, 24 jam terakhir menunjukkan jumlah rudal dan drone musuh yang ditembakkan Iran paling rendah. Mereka akan bersembunyi di bawah tanah, tetapi kami akan menemukannya,” kata dia.
Namun demikian, badan intelijen AS menilai penurunan jumlah peluncuran tidak serta-merta menunjukkan melemahnya kemampuan Iran.
Sebaliknya, Iran diyakini tengah mengubah strategi dengan menghemat persenjataan, menyebar peluncur, dan memperkuat penggunaan fasilitas bawah tanah.
Strategi ini memungkinkan Iran tetap menjaga kapasitas serangan dalam jangka panjang sekaligus mempertahankan efek pencegahan.
Laporan tersebut juga menyoroti peningkatan penggunaan bunker, gua, dan silo bawah tanah sebagai perlindungan utama sistem rudal Iran.
Bahkan ketika fasilitas tersebut tampak rusak, tim Iran dilaporkan mampu menggali kembali dan mengaktifkan peluncur dalam waktu singkat.
Media Israel juga melaporkan penggunaan alat berat seperti buldoser untuk memulihkan peluncur yang tertimbun akibat serangan udara.
Para pejabat AS menilai langkah ini menunjukkan kesiapan Iran untuk mempertahankan tekanan secara berkelanjutan.
Meskipun volume serangan menurun, Iran masih secara rutin meluncurkan rudal dan drone.
Dalam laporan tersebut disebutkan Iran menembakkan sekitar 15 hingga 30 rudal balistik serta 50 hingga 100 drone setiap hari.
Serangan dilakukan dalam gelombang kecil dan bertahap, berbeda dengan pola serangan besar-besaran sebelumnya.
Perkiraan lain menyebutkan rata-rata sekitar 20 rudal per hari yang diluncurkan secara terbatas dalam satu waktu.
Para pejabat menilai pola ini mencerminkan kombinasi antara keterbatasan operasional dan perhitungan strategis, termasuk tantangan koordinasi dalam struktur komando Iran.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]