WAHANANEWS.CO, Jakarta - Meski digempur habis-habisan oleh Amerika Serikat dan Israel, Iran ternyata telah memulihkan hampir seluruh infrastruktur rudalnya di sekitar Selat Hormuz.
Laporan intelijen Amerika Serikat yang dikutip The Telegraph pada Rabu (13/5/2026) menyebut Teheran kembali memiliki akses operasional ke sebagian besar lokasi misil strategis di jalur pelayaran paling vital di dunia tersebut.
Baca Juga:
Emas Rp95 Juta Hilang Usai Rumah di Deli Serdang Digeledah 6 Pria Ngaku Polisi
Sebanyak 30 dari 33 lokasi misil Iran di sekitar Selat Hormuz disebut telah kembali aktif.
Kawasan ini sangat strategis karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Selain memulihkan infrastruktur, Iran juga dilaporkan masih mempertahankan sekitar 70 persen stok misil dan peluncur bergeraknya.
Baca Juga:
Punya Tahi Lalat di 6 Bagian Ini? Konon Rezeki Anda Gak Akan Putus
Laporan The New York Times menyebut sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan bawah tanah dan lokasi peluncuran misil Iran kini dinilai sebagian atau sepenuhnya operasional.
Persenjataan Iran mencakup misil balistik yang mampu menjangkau negara-negara tetangga serta misil jelajah jarak pendek.
Untuk menghindari serangan lanjutan, Iran disebut memindahkan persenjataannya menggunakan peluncur bergerak ke sejumlah lokasi baru.
Temuan intelijen ini menunjukkan Iran masih memiliki kapasitas untuk mengancam pelayaran komersial dan armada Angkatan Laut AS di kawasan Teluk.
Kesimpulan tersebut bertolak belakang dengan klaim Presiden Donald Trump dan sejumlah pejabat senior AS yang sebelumnya menyatakan kemampuan militer Iran telah lumpuh.
Bulan lalu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan operasi militer itu telah membuat Teheran tidak efektif untuk bertempur selama bertahun-tahun.
Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata diberlakukan, belum terlihat kemajuan berarti menuju kesepakatan permanen antara kedua pihak.
Di tengah situasi tersebut, Iran justru memperkuat pengaruhnya di Selat Hormuz.
Teheran dilaporkan mencapai kesepakatan dengan Irak dan Pakistan terkait pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan tersebut.
Kantor berita Fars News Agency mengutip seorang pejabat Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa definisi kawasan Selat Hormuz telah diperluas dari kota pesisir Jask di timur hingga Pulau Siri di barat.
Di sisi lain, Amerika Serikat mulai menghadapi tekanan terhadap persediaan amunisi penting.
Stok misil jelajah Tomahawk, misil pencegat Patriot, Precision Strike Missile, dan ATACMS dilaporkan mulai menipis.
Lockheed Martin memperingatkan bahwa proses pengisian ulang stok dapat memakan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan kapasitas produksi dan kendala rantai pasok.
Meski demikian, pejabat Pentagon memastikan kemampuan tempur AS masih tetap terjaga.
“Militer memiliki amunisi yang cukup untuk tugas yang harus dilakukan saat ini,” ujar Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell juga memastikan bahwa seluruh kebutuhan operasional militer tetap tersedia.
“Kami telah menjalankan berbagai operasi sukses di berbagai komando tempur sambil memastikan militer AS tetap memiliki persenjataan mendalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami,” kata Parnell.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]