WAHANANEWS.CO, Jakarta - Harapan Amerika Serikat bahwa kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz sudah di depan mata mendapat bantahan keras dari Teheran yang menegaskan tidak ada perundingan langsung antara kedua negara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran saat ini sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat meski komunikasi tidak langsung masih berlangsung melalui perantara.
Baca Juga:
Rencana Gulingkan Pemerintah Iran Kandas, Kepala Mossad Pecat Dua Pejabat Senior
Pernyataan tersebut berseberangan dengan sinyal yang sebelumnya disampaikan sejumlah pejabat Washington bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz semakin dekat.
Mengutip CNBC, Senin (10/8/2026), jeda singkat pertempuran antara Amerika Serikat dan Iran sebelumnya terjadi setelah nota kesepahaman pada Rabu (17/6/2026).
Namun, periode tersebut kemudian diikuti serangan pesawat nirawak dan rudal Iran terhadap pelayaran di kawasan selat serta sejumlah negara Teluk yang selanjutnya dibalas dengan serangan Amerika Serikat.
Baca Juga:
Trump Murka! Netanyahu Bongkar Isu Nuklir Iran ke Publik, Hubungan AS-Israel Memanas
Araghchi pada Minggu (9/8/2026) menegaskan negaranya tidak sedang melakukan perundingan langsung dengan Washington.
Meski demikian, Araghchi mengakui pertukaran pesan antara kedua negara tetap berlangsung dengan melibatkan pihak perantara.
"Pembicaraan dengan Oman tidak berarti Selat Hormuz akan dibuka kembali," papar Araghchi.
Menurut Araghchi, tercapainya kesepakatan dengan Oman tidak otomatis membuat salah satu jalur pelayaran terpenting dunia tersebut kembali dibuka.
"Kesepakatan mungkin dicapai, tetapi pembukaan kembali selat bergantung pada kondisi lain yang disampaikan melalui perantara," katanya.
Araghchi juga menyebut Amerika Serikat tetap harus memenuhi sejumlah prasyarat yang diajukan Teheran apabila menginginkan Selat Hormuz kembali dibuka meskipun Iran nantinya berhasil mencapai kesepakatan dengan Oman.
Oman selama ini memainkan peran sebagai perantara utama dalam persoalan Selat Hormuz yang menjadi gerbang penting bagi sekitar seperlima pasokan energi dunia.
Sehari sebelumnya, Araghchi menyatakan Iran dan Oman yang sama-sama berada di sekitar jalur perairan tersebut telah mendekati kesepakatan mengenai mekanisme navigasi.
Kesepakatan itu secara khusus membahas penentuan rute transit yang aman bagi kapal-kapal yang melintasi kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan gambaran berbeda mengenai perkembangan komunikasi dengan Teheran dalam wawancara bersama Axios pada Minggu (9/8/2026).
"Kami hanya setengah bernegosiasi dengan mereka," kata Trump.
Trump menyebut Washington saat ini lebih memilih mengawasi perkembangan situasi Iran, termasuk kondisi ekonomi negara tersebut.
"Kami hanya mengawasi Iran dengan inflasi besarnya dan fakta bahwa mereka tidak punya uang," ujarnya.
Trump kemudian menyampaikan keyakinannya bahwa strategi Washington terhadap Teheran pada akhirnya akan membuahkan hasil.
"Itu akan berhasil, selalu berhasil, ini seperti permainan catur," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menyatakan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bahkan dapat tercapai paling cepat pada Rabu (12/8/2026).
Trump dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga sebelumnya memberikan sinyal bahwa kesepakatan mengenai jalur perairan strategis tersebut sudah semakin dekat.
Namun, berdasarkan berbagai laporan media pada Sabtu (8/8/2026), Iran justru mengajukan serangkaian tuntutan besar kepada Washington sebagai syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohammad Bagher Zolghadr menyebut pencabutan blokade laut dan sanksi oleh Amerika Serikat menjadi bagian dari persyaratan Teheran.
Iran juga menuntut penarikan pasukan militer Amerika Serikat dari kawasan tersebut, pembayaran pampasan perang, serta pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran turut mendesak Washington menghentikan serangan terhadap sekutu regional Teheran serta segala bentuk ancaman terhadap Iran.
Berdasarkan kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni 2026, jadwal pengakhiran sanksi dan rencana kompensasi akan menjadi bagian dari kesepakatan akhir bersama dengan penyelesaian persoalan aset Iran yang dibekukan.
Periode 60 hari yang telah disepakati untuk merundingkan kesepakatan akhir tersebut dijadwalkan berakhir dalam waktu kurang dari sepekan.
Di tengah tarik-menarik tuntutan tersebut, laporan media menyebut Iran dan Oman sedang merumuskan perjanjian untuk menentukan mekanisme rute transit melalui Selat Hormuz.
Dalam skema yang sedang dibahas, lalu lintas kapal yang masuk nantinya akan diarahkan melewati perairan Iran, sedangkan lalu lintas keluar akan melalui wilayah perairan Oman.
Situasi menjadi semakin kompleks setelah media pemerintah Iran pada Kamis (6/8/2026) menerbitkan draf rencana yang berpotensi membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Draf yang sedang ditinjau parlemen Iran tersebut disebut akan secara resmi melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi jalur perairan strategis itu.
Negara-negara lain yang dinilai telah merugikan Iran juga terancam tidak diperbolehkan melintas hingga membayar kompensasi yang ditetapkan Teheran.
Ketidakpastian mengenai nasib draf tersebut kemudian ikut mendorong harga minyak kembali melonjak pada Jumat (7/8/2026).
Firma intelijen perdagangan Kpler melaporkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz anjlok sekitar 33 persen pada Jumat (7/8/2026) karena sebagian armada beralih menggunakan rute Iran.
Harga minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan internasional naik lebih dari 1 persen dan ditutup pada level US$83,55 atau sekitar Rp1.487.190 per barel.
Minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI Amerika Serikat juga naik sekitar 1 persen hingga berada pada level US$78,18 atau sekitar Rp1.391.604 per barel.
Meski mengalami kenaikan pada akhir perdagangan tersebut, harga minyak global secara keseluruhan masih membukukan penurunan lebih dari 7 persen sepanjang pekan.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]