WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dominasi udara Amerika Serikat kembali dipertanyakan setelah jet tempur andalannya dilaporkan hancur ditembak sistem pertahanan Iran, memicu kekhawatiran baru dalam peta kekuatan militer global, pada Rabu (8/4/2025).
Angkatan Udara Amerika Serikat harus menghadapi kenyataan pahit setelah jet tempur McDonnell Douglas F-15E Strike Eagle dilaporkan hancur berkeping-keping akibat tembakan pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di wilayah udara selatan Iran.
Baca Juga:
Dua Hari Hilang di Iran, Pilot F-15E AS Diselamatkan Lewat Operasi Militer Dramatis
Insiden ini tidak hanya menjadi kerugian militer semata, tetapi juga menandai eskalasi geopolitik yang menunjukkan bahwa dominasi udara Amerika Serikat mulai menghadapi tantangan serius.
F-15E Strike Eagle dikenal sebagai salah satu pesawat tempur paling canggih yang dimiliki Amerika Serikat dengan kemampuan ganda sebagai pembom dan pesawat tempur garis depan.
Pesawat ini dirancang untuk menjalankan misi serangan presisi jarak jauh ke wilayah pertahanan musuh tanpa memerlukan pengawalan tambahan.
Baca Juga:
Perombakan Besar Militer AS, Randy George Didepak dari Kursi Kepala Staf
Keandalannya membuat F-15E selama ini menjadi tulang punggung operasi militer Amerika Serikat dalam menembus wilayah yang dijaga ketat.
Namun, insiden jatuhnya pesawat ini memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas teknologi canggih yang dimilikinya.
Pesawat tersebut diketahui mampu melesat hingga kecepatan Mach 2,5 atau sekitar 3.057 kilometer per jam dengan dukungan mesin ganda Pratt & Whitney F100.
Selama ini, F-15E mengandalkan sistem LANTIRN yang memungkinkan penerbangan rendah mengikuti kontur bumi untuk menghindari deteksi radar musuh.
Dalam operasionalnya, pesawat ini diawaki oleh dua personel dengan pembagian tugas antara pilot dan perwira sistem senjata yang mengendalikan radar untuk mendeteksi ancaman.
Namun demikian, sistem pertahanan udara Iran dilaporkan telah berkembang pesat dan mampu mendeteksi serta mengunci target yang terbang rendah dengan kecepatan tinggi.
"Kehancuran yang dipublikasikan oleh IRGC ini menunjukkan kecanggihan yang mengkhawatirkan dan letalitas dari jaringan pertahanan udara Iran yang sangat dibentengi."
Kerugian yang dialami Amerika Serikat tidak hanya berdampak secara strategis, tetapi juga finansial mengingat harga satu unit F-15E mencapai jutaan dolar.
Pesawat ini mampu membawa beban persenjataan hingga 23.000 pon atau sekitar 10.432 kilogram dalam satu misi tempur.
Selain itu, F-15E dilengkapi tangki bahan bakar konformal yang meningkatkan jangkauan operasional tanpa perlu pengisian bahan bakar di udara.
Saat insiden terjadi, pesawat tersebut diduga tengah membawa berbagai jenis persenjataan canggih termasuk bom penghancur bunker, bom pintar JDAM, hingga misil jelajah jarak jauh.
Persenjataan tersebut juga dilindungi oleh sistem rudal udara-ke-udara seperti AIM-9X Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM untuk menghadapi ancaman dari udara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]