WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pembukaan kembali Selat Hormuz selama dua pekan di tengah memanasnya situasi geopolitik dinilai memberi dorongan positif bagi perekonomian global.
Dampak paling terasa muncul di kawasan Asia yang selama ini sangat bergantung pada pasokan energi dari jalur strategis tersebut.
Baca Juga:
AS dan Iran Gencatan Senjata, Respons Israel Katakan Ini!
Peneliti dari CORE Indonesia, Azhar Syahida, menilai kebijakan pembukaan sementara itu sebagai sebuah “angin segar” bagi pasar global.
Sebelumnya, penutupan jalur pelayaran vital tersebut sempat memicu kekhawatiran krisis energi dan menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam.
"Dengan pembukaan dua minggu ini tentu ini akan membuat lalu lintas pengiriman minyak dan gas menjadi lebih lancar. Utamanya ini kan sebagian besar sebetulnya dikirim ke negara-negara Asia," katanya seperti dilaporkan RRI, Rabu, 8 April 2026.
Baca Juga:
Harga Emas Naik Lagi, Pagi Ini Sudah Melonjak 2% ke US$4.800
Ia menjelaskan, kelancaran distribusi energi ini mulai berdampak pada harga minyak global yang sebelumnya menembus angka di atas 100 dolar AS per barel.
Kini, harga tersebut berangsur turun seiring membaiknya arus pasokan minyak dan gas ke pasar internasional.
Di sisi lain, Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga, Ayub Mirdad, mengingatkan bahwa pembukaan Selat Hormuz belum bisa diartikan sebagai berakhirnya konflik.