WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, menyatakan bahwa pengelolaan Selat Hormuz akan memasuki babak baru yang lebih strategis.
Selain itu, Teheran juga menegaskan komitmennya untuk menuntut kompensasi atas berbagai kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik bersenjata dikutip dari Anadolu Agency pada Sabtu, 11 April 2026.
Baca Juga:
AS Usulkan Pertemuan Langsung Ukraina-Rusia di Miami, Kiev Siap Hadir
Pernyataan tersebut disampaikan melalui pesan resmi yang dirilis pada Kamis, 9 April 2026. Dalam pesannya, Khamenei menekankan bahwa Iran tengah bersiap memasuki fase baru dalam pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia yang selama ini menjadi titik krusial geopolitik kawasan.
Meski mengisyaratkan adanya perubahan kebijakan, ia tidak menjelaskan secara rinci langkah konkret yang akan diambil pemerintah Iran ke depan.
Namun demikian, Khamenei menegaskan bahwa Iran akan menempuh jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban atas kerugian yang dialami, baik secara material maupun nonmaterial.
Baca Juga:
Paus Leo XIV Kecam Diplomasi Berbasis Kekuatan, Serukan Kembalinya Dialog Perdamaian Global
Menurutnya, pihak yang melakukan agresi tidak akan dibiarkan lepas dari tanggung jawab. Iran, kata dia, akan menuntut kompensasi atas kerusakan infrastruktur, korban jiwa, serta warga yang mengalami luka-luka akibat konflik tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah rencana perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
Proses negosiasi dijadwalkan berlangsung di Pakistan dengan peran mediasi dari pemerintah setempat.
Pembicaraan diperkirakan dimulai pada Sabtu, 11 April 2026, dan dapat berlangsung hingga dua pekan, tergantung dinamika yang berkembang selama perundingan berlangsung.
Iran menegaskan bahwa langkah diplomatik tersebut tidak serta-merta menandai berakhirnya konflik.
Khamenei juga mengingatkan bahwa negaranya tetap berada dalam posisi siaga dan siap memberikan respons terhadap kemungkinan agresi lanjutan.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak terjadinya ofensif terhadap Iran pada 28 Februari yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat.
Konflik tersebut menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur serta memicu gangguan pada pasar global, termasuk sektor energi dan penerbangan internasional.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu sebagai upaya membuka ruang dialog.
Negosiasi yang akan berlangsung ini diharapkan dapat menjadi titik awal menuju kesepakatan jangka panjang guna meredakan konflik yang berkepanjangan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]