WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Teheran memperingatkan akan melancarkan serangan balasan "panjang dan menyakitkan" jika Washington melanjutkan agresi militer. Ancaman ini muncul di tengah konflik yang telah berlangsung dua bulan dan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Melansir The New York Times, konflik AS-Israel dengan Iran telah menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran akan potensi perlambatan ekonomi dunia.
Baca Juga:
Pekan Ketiga Perang di Timteng, Harga Minyak Dunia Berpontensi Naik Lagi
Harga minyak acuan dunia sempat melonjak hingga di atas US$126 per barel sebelum turun kembali ke kisaran US$114. Kenaikan tajam ini dipicu laporan rencana briefing Presiden AS Donald Trump terkait opsi serangan militer baru terhadap Iran.
Seorang pejabat AS menyebut Trump dijadwalkan menerima paparan mengenai berbagai opsi serangan untuk menekan Iran agar mau bernegosiasi. Opsi tersebut termasuk kemungkinan penggunaan pasukan darat untuk mengamankan sebagian Selat Hormuz dan membuka kembali jalur pelayaran komersial.
Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan tersebut dan menilai pembicaraan dengan AS tidak akan menghasilkan solusi cepat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut ekspektasi hasil instan dari negosiasi adalah tidak realistis.
Baca Juga:
Langit Teheran Gelap Total, “Hujan Hitam” Beracun Turun Usai Depot Minyak Dihantam Israel
Di sisi militer, aktivitas pertahanan udara dilaporkan terjadi di Teheran dengan sistem pertahanan menanggapi drone dan pesawat tanpa awak. Situasi ini menandakan eskalasi konflik yang masih terus berlangsung meski terdapat gencatan senjata sejak 8 April.
Sementara itu, Uni Emirat Arab melarang warganya bepergian ke Iran, Lebanon, dan Irak serta meminta mereka yang berada di wilayah tersebut untuk segera kembali. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Trump kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir dan menyebut harga bensin akan turun drastis jika perang berakhir. Meski demikian, ia menyatakan tidak keberatan jika Iran tetap berpartisipasi dalam Piala Dunia mendatang.