Selain itu, Turki juga mempertimbangkan jalur distribusi melalui Oman.
Bahkan, skenario rute yang lebih panjang dengan mengelilingi benua Afrika turut masuk dalam perencanaan sebagai langkah darurat apabila gangguan berlangsung dalam jangka waktu lama.
Baca Juga:
Badan Intelijen Turki Buka Kedok Jaringan Mata-mata Mossad di Istanbul
Diversifikasi jalur ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko terhentinya pasokan energi global.
Dengan adanya alternatif rute, diharapkan distribusi minyak dan gas tetap berjalan meskipun terjadi hambatan di jalur utama.
Ketegangan di kawasan meningkat tajam setelah konflik yang pecah pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Baca Juga:
Pertemuan Bisnis Menperin di Turki Buka Peluang Investasi Baru Sektor Industri
Situasi ini kemudian memicu respons balasan dari Iran yang menargetkan sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di kawasan.
Serangan balasan tersebut dilaporkan terjadi di beberapa negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Rangkaian aksi militer ini memperburuk situasi keamanan regional dan meningkatkan kekhawatiran akan terganggunya jalur perdagangan energi.