WAHANANEWS.CO, Jakarta - Venezuela pada Sabtu (3/1//2026) secara resmi meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar rapat darurat Dewan Keamanan menyusul serangan militer yang diduga dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap wilayahnya.
Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil.
Baca Juga:
Machado Klaim Serahkan Nobel Perdamaian ke Trump dalam Pertemuan Politik
“Sebagai respons atas agresi kriminal yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap bangsa kami, kami telah meminta rapat darurat Dewan Keamanan PBB, badan yang bertanggung jawab menegakkan hukum internasional,” kata Gil melalui Telegram.
Gil menegaskan bahwa serangan tersebut tidak akan melemahkan semangat rakyat Venezuela. Ia menyatakan tidak ada tindakan pengecut yang mampu mengalahkan kekuatan dan keteguhan rakyatnya.
Menurutnya, Venezuela akan tetap bertahan dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Baca Juga:
Trump Mulai Nikmati Minyak Venezuela, Penjualan Perdana Tembus Rp 8,4 Triliun
Pemerintah Venezuela menuduh Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas sipil dan militer di beberapa negara bagian.
Akibat eskalasi tersebut, pemerintah setempat menetapkan status darurat nasional guna mengantisipasi dampak lanjutan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi adanya operasi militer berskala besar melalui platform media sosial Truth Social.
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri.
Presiden AS Donald Trump mengakui bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan militer terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro.
"Amerika Serikat telah berhasil melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela," kata Trump di platform Truth Social, Sabtu (3/1/2026).
"Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu," katanya, menambahkan.
Namun demikian, klaim Trump mengenai penangkapan Presiden Maduro hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak lain.
Situasi di Venezuela dilaporkan semakin mencekam setelah warga dikejutkan oleh sejumlah ledakan dahsyat di beberapa wilayah pada Sabtu dini hari.
Media setempat melaporkan meningkatnya ketegangan di tengah hubungan yang memanas antara Caracas dan Washington.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal di sejumlah titik ibu kota Caracas, disertai suara sirene serangan udara.
Sedikitnya tujuh ledakan dilaporkan terjadi, sementara jet-jet tempur terlihat terbang rendah di atas kota.
Pemadaman listrik juga dilaporkan terjadi di beberapa kawasan Caracas, termasuk wilayah selatan yang berdekatan dengan pangkalan militer utama.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil kembali mengecam keras agresi militer Amerika Serikat terhadap negaranya dan menegaskan bahwa Venezuela akan membawa persoalan ini ke forum internasional.
Sementara itu, Trump menyatakan akan menggelar konferensi pers terkait serangan tersebut di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, pada pukul 11.00 waktu setempat atau sekitar pukul 23.00 WIB.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]