"Indo-Pasifik adalah tempat menentukan bentuk tatanan
internasional masa depan. Kami ingin membantu membentuknya dan bertanggung
jawab atas tatanan internasional berbasis aturan," kata Menteri Luar
Negeri Heiko Maas, Minggu.
Diketahui, China mengklaim hampir semua laut yang kaya
dengan sumber daya alam, yang menjadi lalu lintas perdagangan bernilai
triliunan dolar AS setiap tahun.
Baca Juga:
Dominasi China Berakhir, AS Kini Mitra Dagang Terbesar Jerman
Hal itu memicu ketegangan dengan sejumlah negara, seperti
Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Taiwan.
Klaim itu juga menyulut ketegangan baru dengan Amerika
Serikat, yang berkepentingan terhadap sekutunya dan hegemoni di kawasan.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin, pada pekan lalu, menekankan bahwa klaim
China "tidak memiliki dasar dalam hukum internasional".
Jerman, sekutu utama AS, biasanya enggan mengambil peran
militer di panggung internasional, dan sering mendesak hubungan yang tidak
terlalu konfrontatif dengan Beijing.
Baca Juga:
Bom Nuklir Terbaru AS B61-12 di Tangan Jerman, NATO Siap Cegah Ancaman Rusia
Namun, arah Berlin terhadap China berubah lewat pedoman baru
pemerintah Jerman yang diterbitkan pada tahun 2020 untuk memperkuat hubungan
dengan mitra di Asia Tenggara.
Pada bulan Maret, UE juga memberikan sanksi kepada empat
pejabat China atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Xinjiang di
bagian barat jauh China.
Di saat yang sama, Jerman tetap memiliki hubungan ekonomi
kuat dengan Beijing.