“Amerika Serikat akan terus mendukung Pemerintah Kamboja dan Thailand saat mereka menerapkan Perjanjian Perdamaian Kuala Lumpur, dan membuka jalan bagi kembalinya perdamaian, kemakmuran, serta stabilitas bagi rakyat mereka dan kawasan ini,” ujar DeSombre pada Jumat (9/1/2026), dikutip dari kantor berita AFP.
Upaya AS Perkuat Perdamaian Thailand–Kamboja
Baca Juga:
Kerusakan Serangan AS-Israel ke Iran Ditaksir Capai 270 Miliar Dolar AS
Langkah penguatan gencatan senjata ini merujuk pada kesepakatan damai yang ditandatangani oleh Thailand dan Kamboja di hadapan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Oktober 2025 di Malaysia, ketika negara tersebut menjabat sebagai Ketua ASEAN.
Namun demikian, kondisi keamanan di lapangan masih tergolong fluktuatif dan rawan eskalasi.
Bentrokan berskala besar sempat kembali terjadi pada bulan lalu sebelum kedua negara akhirnya menyepakati gencatan senjata terbaru pada 27 Desember 2025.
Baca Juga:
NATO Ogah Dukung Perang Iran, Trump Ancam Pangkas Dana Triliunan Dolar
Pemerintah Thailand sebelumnya menuduh Kamboja melanggar kesepakatan tersebut melalui tembakan yang diklaim sebagai insiden tidak disengaja.
Sebaliknya, pihak Kamboja mendesak Thailand agar menarik pasukannya dari wilayah perbatasan yang diklaim sebagai bagian dari kedaulatan Phnom Penh.
Konflik yang telah berlangsung lama antara dua negara bertetangga ini berakar dari sengketa penetapan batas wilayah sepanjang sekitar 800 kilometer, yang merupakan peninggalan masa kolonial.