WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dunia kembali diguncang, konflik terbaru di Timur Tengah bukan hanya soal geopolitik, tetapi telah menjalar menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global dan pasokan energi dunia.
Konflik yang memanas di kawasan tersebut kini disebut telah memicu kesulitan besar di berbagai belahan dunia, mulai dari gangguan distribusi energi hingga ancaman krisis pangan dan bahan bakar.
Baca Juga:
Pimpinan Hizbullah Dikabarkan Tewas, Israel Hantam Hizbullah di Tengah Gencatan Senjata
"Kata Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva, ekonomi dunia yang tangguh sedang kembali diuji oleh perang yang kini sedang mendera Timur Tengah."
Ia menambahkan bahwa konflik tersebut telah menyebabkan tekanan besar secara global, terutama pada sektor energi yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi dunia.
Dampak paling terasa adalah guncangan terhadap pasokan global, di mana distribusi minyak dilaporkan turun hingga 13 persen, sementara pasokan gas alam cair atau LNG merosot hingga 20 persen per hari akibat ketegangan tersebut.
Baca Juga:
Gencatan Senjata Baru Seumur Jagung, Israel Serang Beirut hinggaTewaskan 112 Orang
"Kata Georgieva, sebagai peringatan, karena ini adalah guncangan negatif terhadap pasokan, maka penyesuaian permintaan tidak dapat dihindari."
Gangguan pasokan ini juga diperkirakan akan memicu penutupan sejumlah kilang, yang berpotensi memperburuk krisis energi sekaligus menyeret sektor pangan ke dalam tekanan akibat lonjakan biaya produksi dan distribusi.
Sementara itu, perkembangan terbaru menunjukkan adanya secercah harapan setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata sementara antara Donald Trump dan Iran.
"Pada Selasa (7/4/2025), diumumkan oleh Trump kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran."
Kesepakatan ini kemudian diikuti pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyebut bahwa jalur vital energi dunia akan kembali dibuka.
"Kata Araghchi, Selat Hormuz—yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan LNG global—akan dibuka kembali sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata."
Pembukaan kembali jalur strategis tersebut menjadi kabar penting bagi pasar global, mengingat sebelumnya Iran sempat membatasi lalu lintas di kawasan tersebut sebagai respons atas eskalasi militer.
Konflik ini sendiri bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Jumat (28/2/2025), yang kemudian dibalas dengan serangan Iran ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Aksi saling serang tersebut memperparah situasi dengan membatasi pergerakan di Selat Hormuz, yang berujung pada terganggunya pasokan energi global serta melonjaknya harga minyak dan gas di pasar internasional.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]