WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernyataan terbaru Presiden Amerika Serikat kembali memicu polemik menjelang perhelatan sepak bola terbesar dunia setelah Donald Trump secara terbuka mengomentari keikutsertaan Iran di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
"Saya pikir Iran adalah negara yang kalah telak. Mereka sudah kehabisan tenaga," jelas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Baca Juga:
Trump Tuding Iran Kembangkan Rudal yang Bisa Jangkau Daratan AS
Pernyataan tersebut muncul di tengah diskusi global mengenai apakah Tim Nasional Iran akan tetap tampil dalam Piala Dunia FIFA 2026 yang sebagian besar pertandingan akan berlangsung di wilayah Amerika Serikat.
Dalam pernyataan lanjutan yang ia unggah melalui platform Truth Social pada Kamis (12/3/2026), Trump menyebut tim nasional Iran tetap dipersilakan tampil meski ia secara pribadi menilai kehadiran mereka tidak tepat.
"Tim Nasional Sepak Bola Iran dipersilakan untuk mengikuti Piala Dunia, tetapi saya benar-benar tidak percaya bahwa kehadiran mereka di sana pantas, demi keselamatan dan keamanan hidup mereka sendiri. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini! Presiden DONALD J. TRUMP," tulisnya.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Didampingi Menteri ESDM dan Sekretaris Kabinet Bertolak ke Washington DC Bertemu Dengan Presiden Trump
Sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino mengonfirmasi bahwa Iran tetap diizinkan tampil di Piala Dunia 2026 setelah bertemu dengan Trump dalam sebuah pertemuan pada Rabu (11/3/2026) siang WIB.
“Kami juga membicarakan situasi terkini di Iran, dan fakta bahwa tim Iran telah lolos untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 2026,” kata Infantino.
Ia menjelaskan bahwa dalam pembicaraan tersebut Presiden Amerika Serikat kembali menegaskan bahwa tim Iran tetap boleh berkompetisi dalam turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia itu.
“Selama diskusi, Presiden Trump menegaskan kembali bahwa tim Iran tentu saja dipersilakan untuk berkompetisi dalam turnamen di Amerika Serikat,” sambungnya.
Secara formal, Presiden Amerika Serikat sebenarnya tidak memiliki kewenangan untuk menentukan nasib partisipasi Iran karena keputusan tersebut sepenuhnya berada di tangan FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia.
Meski demikian, pakar geopolitik Profesor Simon Chadwick menilai bahwa pengaruh politik tetap bisa muncul dalam bentuk tekanan diplomatik terhadap pihak penyelenggara.
“Tetapi dalam praktiknya, dan terutama mengingat hubungannya dengan Infantino, mungkin ada tekanan diplomatik dan langkah-langkah nyata yang diterapkan oleh pemerintah di Washington DC yang pada akhirnya mengarah pada hasil yang lebih menguntungkan bagi pemerintahan AS,” jelasnya.
Situasi ini menjadi rumit karena hingga kini belum pernah ada negara yang mundur dari Piala Dunia setelah menyelesaikan fase kualifikasi sehingga belum ada preseden jelas mengenai mekanisme keputusan dalam kondisi seperti ini.
Chadwick memperkirakan bahwa keputusan final mengenai status Iran kemungkinan akan diumumkan pada April mendatang setelah berbagai pertimbangan politik dan olahraga selesai dibahas.
“Orang mungkin membayangkan bahwa akhir April mungkin merupakan titik paling akhir di mana keputusan dapat dibuat, meskipun secara realistis keputusan tersebut perlu diambil lebih cepat," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jika Iran benar-benar dikeluarkan dari turnamen maka pengumuman tersebut kemungkinan akan muncul lebih awal.
"Jika Iran akan dikecualikan, maka orang mungkin membayangkan bahwa hal ini akan dikonfirmasi pada awal hingga pertengahan April,” sambungnya.
Di tengah polemik tersebut, pemerintah Iran justru memberi sinyal kemungkinan mundur sebagai bentuk protes atas konflik yang sedang berlangsung.
"Mengingat rezim korup ini telah membunuh pemimpin kita, dalam keadaan apa pun kita tidak dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia," kata Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali kepada televisi pemerintah.
Jika Iran benar-benar memilih mundur dari turnamen tersebut, maka posisi mereka kemungkinan akan digantikan oleh tim lain dari Asia seperti Irak atau Uni Emirat Arab berdasarkan pencapaian terakhir di babak kualifikasi.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]