Orang-orang di pesawat sedang berdoa, sementara penumpang yang lain dengan gugup berbicara atau menangis, menurut Christine.
"Saya ketakutan tidak seperti sebelumnya dalam hidup saya," ujar dia.
Baca Juga:
Total Armada Capai 165 Kapal, TNI AL Diperkuat 5 KRI di 2024
"Aku bahkan tidak bisa menghapus air mata yang mengalir di wajahku atau menggerakkan kepalaku untuk melihat sekeliling. Terjun! Ini belum berakhir. Goyang kiri, goyang kanan! Kepalaku membentur jendela."
Kapten kemudian memberi tahu penumpang bahwa dia akan mencoba mendarat lagi dari sudut yang berbeda. Lalu pesawat naik ketinggian dari awan badai dengan sangat cepat.
"Saat pesawat berbelok, sisi saya terangkat memaksa saya untuk melihat ke bawah ke kiri," tulis dia.
Baca Juga:
Tragedi Kecelakaan Kapal Nelayan di Korea Selatan: 7 Tewas, 1 WNI dalam Pencarian
"Suami saya menghadap saya, mata kami terkunci dan tangan kami saling terkait. Tidak perlu kata-kata. Dia sama takutnya dengan saya, namun kami tetap bersama. 'Sampai mati ...' Tidak, jangan pergi ke sana!" ujar dia.
Saat pesawat berguncang hebat, Christine terus memegang tangan suaminya sampai pesawat akhirnya mendarat di landasan.
"Kami selamat," kenangnya. "Tapi saya masih tidak bisa bergerak. Saya masih tidak bisa memahaminya. Kami aman di tanah, namun tenggorokan saya terasa seperti ada jerat yang mengikatnya. Saya merasakan genggaman tangan saya dan mendengar seseorang berbicara kepada saya, tetapi saya masih membeku. Saat itulah saya menyadari bahwa hidup saya telah berubah dan tidak akan pernah sama lagi."