WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di Timur Tengah meledak ke level paling berbahaya setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan empat rudal balistik ke kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN-72), dalam sebuah operasi yang disebut sebagai babak baru konfrontasi terbuka dengan Washington dan Tel Aviv, Minggu (1/3/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan dalam komunike ketujuh Operasi “True Promise 4” yang dirilis Kantor Humas Islamic Revolutionary Guard Corps dan disiarkan oleh Tasnim News Agency pada hari yang sama.
Baca Juga:
Ledakan Dahsyat di Teheran, Ahmadinejad Gugur dalam Serangan Gabungan Israel-AS
“Kapal induk Angkatan Laut AS Abraham Lincoln diserang dengan empat rudal balistik,” kata Garda Revolusi, dikutip dari Turkiye Today.
Pernyataan tersebut sekaligus menandai eskalasi tajam setelah hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memanas dalam beberapa pekan terakhir.
“Serangan dahsyat angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap kekuatan militer musuh yang lelah memasuki fase baru, dan darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris,” lanjutnya, sebagaimana dilansir EurAsian Times.
Baca Juga:
Ali Khamenei Tewas Digempur Serangan Udara AS-Israel, Iran Berkabung 40 Hari
Namun demikian, informasi mengenai serangan rudal terhadap kapal induk AS itu belum dapat diverifikasi secara independen hingga laporan ini ditayangkan.
Belum ada tanggapan resmi yang diberikan oleh Pentagon maupun Angkatan Laut Amerika Serikat terkait pernyataan tersebut hingga Minggu (1/3/2026).
Secara terpisah, Pentagon mengumumkan tiga anggota militer Amerika Serikat tewas dalam pertempuran dan lima lainnya mengalami luka parah dalam operasi melawan Iran, tanpa merinci lokasi maupun detail kejadian.
Korban tersebut menjadi yang pertama diumumkan di kalangan personel AS sejak Washington melancarkan serangan besar-besaran ke Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026).
Keberadaan kapal induk USS Abraham Lincoln sebelumnya terungkap melalui citra satelit yang memverifikasi posisinya di kawasan Laut Arab di tengah meningkatnya suhu politik kawasan.
Informasi tersebut mencuat bersamaan dengan agenda pertemuan pejabat Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Selasa (17/2/2026) dalam putaran kedua pembicaraan yang membahas program nuklir Teheran serta potensi pencabutan sanksi ekonomi.
Melansir BBC, USS Abraham Lincoln terpantau berada di perairan Laut Arab sekitar 150 mil atau 240 kilometer dari lepas pantai Oman.
Posisi kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz itu diperkirakan berjarak sekitar 700 kilometer dari wilayah Iran, menjadikannya salah satu aset militer AS terdekat dengan zona potensi konflik terbuka.
Sebagai pemimpin gugus serang kapal induk atau carrier strike group, USS Abraham Lincoln beroperasi bersama tiga kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke dalam satu formasi tempur terpadu.
Secara keseluruhan, kapal induk tersebut membawa sekitar 90 pesawat tempur termasuk jet F-35 dan menampung sekitar 5.680 awak yang siap dikerahkan dalam berbagai skenario operasi militer.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]