Di sisi lain, Hezbollah membantah tuduhan bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan roket ke wilayah Israel dari Lebanon selatan.
"Israel mencari-cari alasan untuk kembali melancarkan serangan udara," ujar Hezbollah dalam pernyataannya, sembari menegaskan bahwa mereka tetap berpegang pada kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada November 2024.
Baca Juga:
Rusia Hujani Drone Ukraina, 77 Pesawat Nirawak Ditembak Jatuh dalam Semalam
Menteri Pertahanan Lebanon, Michel Menassa, menyatakan bahwa pihaknya telah memulai penyelidikan terkait serangan tersebut.
Ia juga meminta negara-negara penjamin gencatan senjata untuk menekan Israel agar menghentikan agresi militernya.
Serangan udara ini merupakan yang pertama sejak Israel mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas di Gaza pada 18 Maret 2025.
Baca Juga:
Rusia Perketat Cengkeraman di Perbatasan Ukraina, Pakar: Strategi Moskow Kian Efektif
Pemerintah Lebanon menyalahkan Israel atas meningkatnya ketegangan, dengan menuding Israel gagal menarik pasukannya dari wilayah Lebanon sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, juga mengutuk tindakan Israel. "Upaya menciptakan ketidakstabilan di Lebanon dan memicu konflik harus segera dihentikan," tegasnya.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan ini adalah respons atas roket yang ditembakkan ke wilayah Israel.