"Sayangnya, konflik global tidak dapat dikesampingkan," imbuh sekutu dekat Putin tersebut.
Komentar Medvedev ini muncul setelah invasi militer besar-besaran Rusia ke Ukraina sejak Februari 2022 memicu konfrontasi paling serius antara Moskow dan negara-negara Barat sejak era Perang Dingin.
Baca Juga:
Rusia Peringatkan NATO, Pengerahan Pasukan ke Greenland Picu Ketegangan Arktik
Dalam beberapa waktu terakhir, utusan khusus Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut tengah berupaya menegosiasikan diakhirinya perang antara Rusia dan Ukraina.
Medvedev sebelumnya sempat memuji Trump dan menyebut kelanjutan kontak antara Moskow dan Washington sebagai perkembangan yang menggembirakan.
Namun demikian, Medvedev yang kerap melontarkan kecaman keras terhadap Kyiv dan negara-negara Barat, serta berulang kali memperingatkan risiko eskalasi konflik menuju "kiamat" nuklir, juga menilai Barat telah berulang kali mengabaikan kepentingan Rusia.
Baca Juga:
Militer Rusia Klaim Tembak Jatuh Jet Tempur F-16 AS
Meskipun Presiden Vladimir Putin tetap menjadi penentu utama kebijakan Rusia, Medvedev yang kini dikenal sebagai tokoh garis keras dianggap mencerminkan pandangan keras di kalangan elite negara tersebut.
Saat ditanya mengenai berbagai gejolak global sepanjang Januari, mulai dari isu Venezuela hingga Greenland, Medvedev menyebut rangkaian peristiwa itu sebagai sesuatu yang "terlalu berlebihan".
Dia menilai klaim Barat mengenai ancaman Rusia atau China terhadap Greenland sebagai "kisah horor" palsu yang sengaja diciptakan oleh para pemimpin Barat untuk membenarkan tindakan mereka sendiri.