Meskipun mengecam tindakan sekutunya, Prancis tetap mendesak agar segera terjadi deeskalasi di kawasan demi mencegah konflik yang lebih luas. Barrot secara khusus meminta Teheran untuk mengubah kebijakan regionalnya yang selama ini dianggap provokatif oleh banyak pihak.
"Kami berharap Iran melepaskan diri dari statusnya sebagai kekuatan yang mendestabilisasi dan berbahaya," lanjutnya.
Baca Juga:
Rakyat Kecil di Penjara Karena Kuasai Tanahnya Sendiri, Sedangkan PTPN IV Kuasai Aset Pemprov Jambi tanpa Sepeser Sumbangsih ke Daerah
Menurut Barrot, perdamaian jangka panjang di Timur Tengah hanya bisa tercapai jika Iran bersedia melakukan perubahan fundamental dalam sikap diplomatiknya. Hal ini mencakup kesediaan untuk memberikan kompromi besar dalam meja perundingan.
"Teheran harus berkomitmen pada perubahan sikap yang radikal dan konsesi besar demi membuka jalan bagi solusi yang langgeng di kawasan ini," tambah Barrot.
Di sisi lain, Prancis mulai menggalang dukungan internasional untuk menjaga jalur perdagangan vital di Selat Hormuz. Barrot mengeklaim bahwa sejumlah negara telah menyatakan ketertarikannya untuk bergabung dalam misi pertahanan internasional guna mengamankan jalur pelayaran minyak tersebut.
Baca Juga:
Selat Hormuz Memanas Lagi, Iran Tembaki dan Sita Kapal yang Coba Keluar
"Peserta potensial mencakup sejumlah negara Eropa, tetapi juga negara-negara di kawasan tersebut," jelas sang menteri merujuk pada inisiatif yang sebelumnya sempat dilontarkan oleh Presiden Emmanuel Macron.
Eskalasi di Timur Tengah memang mencapai titik didih setelah Israel dan AS melancarkan serangan udara besar-besaran bertajuk "Operasi Epic Fury" pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.200 orang dan melukai sedikitnya 10.000 orang di pihak Iran.
Sebagai balasan, Iran langsung meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal. Serangan balasan Teheran menyasar sejumlah titik di Israel, Yordania, Irak, hingga negara-negara Teluk yang menjadi markas aset militer Amerika Serikat.