Dari pihak Iran, Brigadir Jenderal Reza Talaei-Nik memperingatkan bahwa intervensi militer asing di selat tersebut berisiko memperparah krisis dan mengganggu stabilitas energi global. Iran juga menyebut pembatasan pelayaran oleh AS sebagai tindakan "pembajakan".
Sementara itu, dua kapal tanker terkait Iran dilaporkan berhasil meninggalkan selat sebelum batas waktu blokade diberlakukan. Meski demikian, ancaman balasan dari Teheran meningkat, termasuk peringatan bahwa pelabuhan negara-negara di kawasan Teluk tidak akan aman jika Iran diserang.
Baca Juga:
Negosiasi Damai Iran-AS Gagal, Ini Alasannya
Gencatan senjata yang sebelumnya menghentikan serangan udara AS dan Israel kini berada di ujung tanduk, dengan masa berlaku tinggal sekitar satu minggu. Washington menyebut Iran menolak tuntutan dalam pembicaraan terbaru, yang merupakan kontak tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam 1979.
Sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak terlibat dalam blokade, dan menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran tetap terbuka. Di sisi lain, konflik meluas ke kawasan lain, termasuk serangan Israel ke Lebanon yang diklaim menargetkan kelompok Hizbullah.
Di tengah tekanan domestik akibat perang dan lonjakan harga energi, Trump sebelumnya menghentikan kampanye pengeboman besar-besaran. Meski begitu, ia tetap mengklaim kemenangan, meski target awal seperti menghentikan program nuklir Iran belum tercapai.
Baca Juga:
Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Iran Beberkan Alasannya
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.