Isu ini bahkan mendapat sorotan komunitas internasional setelah sejumlah ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 mengidentifikasi setidaknya delapan klub yang beroperasi di wilayah yang disebut sebagai permukiman kolonial Israel.
Para ahli tersebut juga mendesak FIFA untuk menjalankan tanggung jawabnya dalam menghormati prinsip hak asasi manusia dalam tata kelola sepak bola global.
Baca Juga:
Resmi! Persija Jakarta Tunjuk Shin Tae Yong sebagai Pelatih Kepala Baru
Dalam konferensi pers usai kongres, Rajoub kembali menyuarakan sikap kerasnya terhadap kondisi yang terjadi di Palestina dan respons FIFA.
“Apa yang terjadi di Palestina sangat mengerikan, menghancurkan semua fasilitas olahraga Palestina di Gaza, serta menewaskan ratusan atlet dan pekerja.”
Ia menilai situasi tersebut tidak bisa lagi diabaikan oleh otoritas sepak bola dunia yang selama ini mengedepankan nilai persatuan.
Baca Juga:
Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Bintang Masa Depan, Berikut Pemain-Pemain Termudanya
“Saya pikir sekarang adalah waktunya untuk menegakkan keadilan.”
Rajoub juga menyindir pernyataan perwakilan Israel yang dinilai tidak mencerminkan empati terhadap penderitaan yang terjadi.
“Orang yang berbicara mewakili Israel bahkan tidak memperhatikan penderitaan yang terjadi.”