WAHANANEWS.CO, Jakarta - Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, mengungkapkan perkembangan mutakhir dan sangat signifikan terkait eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Pakistan mengonfirmasi telah sukses memediasi Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk duduk di meja negosiasi hingga menghasilkan Nota Kesepahaman (MoU) damai yang resmi ditandatangani. Langkah ini diproyeksikan bakal meredakan ketegangan global dan memberikan sentimen positif pada pasar energi dunia.
Baca Juga:
PBB Temukan Bukti Baru, Israel Lakukan Genosida Sadis di Jalur Gaza
Langkah mediasi ini diambil setelah melalui proses diplomasi yang panjang, rahasia, dan rumit di tengah tingginya ketidakpercayaan antara kedua belah pihak.
Keberhasilan kesepakatan ini dinilai sangat historis mengingat Washington dan Teheran sudah tidak memiliki komunikasi diplomatik langsung selama beberapa dekade terakhir. Dalam dokumen penting tersebut, Pakistan juga membubuhkan tanda tangannya sebagai saksi sekaligus mediator resmi.
"Kami melihatnya sebagai langkah yang sangat positif dan mendorong. Kita berbicara tentang dua negara yang sebelumnya memiliki ketidakpercayaan mutlak dan tidak berkomunikasi langsung dalam waktu lama. Sekarang, kita memiliki MoU yang jelas di mana kedua negara telah menyetujui dan menandatanganinya," ujar Dubes Zahid dalam acara Meet the Press over Hi-Tea di Jakarta, Jumat (26/6/2026) mengutip CNBC Indonesia.
Baca Juga:
Trump Mulai Jengkel ke Netanyahu, Sebut Israel Bisa Gagalkan Damai AS-Iran
Sebelum mencapai kesepakatan ini, Pakistan terlebih dahulu berfokus pada pengamanan gencatan senjata sementara di wilayah-wilayah konflik. Upaya tersebut terbukti efektif meredam ketegangan taktis sehingga memuluskan jalan untuk membawa kedua kekuatan besar tersebut ke meja perundingan. Pakistan dan Qatar bertindak bersama-sama untuk memfasilitasi komunikasi intensif ini.
Islamabad juga menegaskan bahwa mereka tidak bergerak sendirian, melainkan merangkul seluruh kekuatan utama di kawasan Timur Tengah untuk menyamakan persepsi. Pendekatan multilateral ini melibatkan koordinasi erat dengan negara-negara kunci seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, hingga Oman guna memastikan stabilitas jangka panjang. Keamanan energi dan kelancaran jalur logistik global menjadi taruhan utama dalam keberhasilan proses ini.
"Saya senang untuk menyampaikan bahwa pembicaraan ini mengalami kemajuan yang baik, dan kami berharap gencatan senjata permanen serta solusi permanen untuk konflik di kawasan tersebut juga akan tercapai," ungkap Dubes Zahid dengan optimis.