Ia menilai ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berpotensi berlanjut meskipun jalur pelayaran kembali dibuka untuk sementara waktu.
Menurutnya, langkah tersebut lebih merupakan upaya taktis untuk meredakan eskalasi konflik yang berpotensi meluas.
Baca Juga:
Blokade Hormuz Melunak, Harga Minyak Brent Rontok di Bawah 100 Dollar
"Ini bukan tanda perdamaian permanen, melainkan sinyal bahwa kedua pihak sedang menahan eskalasi dan membuka ruang dialog," ucapnya.
Ia juga menilai pembukaan jalur ini dapat menjadi momentum awal dalam membangun kepercayaan (confidence building) di antara pihak-pihak yang bertikai.
Meski demikian, durasi pembukaan yang terbatas menunjukkan bahwa situasi masih jauh dari stabil dan penuh ketidakpastian.
Baca Juga:
Krisis Timur Tengah Makin Gawat, Pasokan Minyak Dunia Hilang 14 Juta Barel per Hari
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kondisi geopolitik di kawasan masih bersifat rapuh dan sangat dipengaruhi oleh dinamika politik serta militer yang terus berkembang.
Namun, adanya peluang dialog tetap menjadi harapan bagi terciptanya stabilitas global dalam jangka panjang.
Dengan demikian, pembukaan sementara Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sektor energi global, tetapi juga menjadi indikator penting dalam membaca arah hubungan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta prospek perdamaian ke depan.