3. Kehilangan Ayah, Ibu, Istri dan Anak karena Serangan AS-Israel
Kenaikan takhta Mojtaba diselimuti oleh tragedi pribadi yang mendalam. Selain kehilangan ayahnya, laporan pemerintah Iran menyebutkan bahwa istri, putra, dan ibunda Mojtaba juga ikut tewas dalam serangan udara yang terjadi pada 28 Februari.
Baca Juga:
Iran Siap Perang Panjang! Ancaman Teheran Disebut Bisa Hancurkan Ekonomi Dunia
Hal ini diyakini akan menutup pintu diplomasi antara Teheran dan Washington. Mantan Penasihat Timur Tengah di Departemen Pertahanan AS, Jasmine El-Gamal, memprediksi bahwa latar belakang duka ini akan membuat Mojtaba menjadi pemimpin yang sangat agresif.
"Anda bisa membayangkan bahwa ini bukan seseorang yang akan berada dalam suasana hati untuk berdamai. Kedua belah pihak terus menjauh, dan itulah sebabnya saya katakan kita akan terus melihat lebih banyak eskalasi dari perspektif militer," jelas El-Gamal.
4. Sosok 'Penjaga Gerbang' yang Tak Pernah Menjabat di Publik
Baca Juga:
Mengejutkan! Perancis Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal
Berbeda dengan ayahnya yang pernah menjabat sebagai Presiden sebelum menjadi Pemimpin Agung, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan publik. Ia lebih banyak bergerak di bayang-bayang sebagai "penjaga gerbang utama" dan sosok yang mengendalikan pengaruh dari balik jubah kekuasaan ayahnya.
Pada tahun 2005 dan 2009, kelompok reformis menuduhnya memanipulasi pemilu untuk memenangkan kandidat konservatif seperti Mahmoud Ahmadinejad. Kandidat reformis saat itu, Mahdi Karroubi, bahkan pernah mengirim surat protes kepada Ali Khamenei mengenai campur tangan putranya.
Khamenei senior kala itu menanggapi protes tersebut dengan membela independensi putranya secara diplomatis. "Dia adalah orangnya sendiri, bukan hanya putra saya," tulis Ayatollah Khamenei dalam penggalan surat yang diterbitkan oleh PBS.