Kedekatannya dengan elite keamanan Iran terbangun saat ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir 1980-an. Kala itu, perang Iran-Irak pecah.
Meskipun telah lama berada di pusat kekuasaan dan memperkuat jaringan melalui pernikahan dengan putri politisi senior konservatif, Mojtaba tidak memegang gelar keagamaan tradisional. Kendati demikian, ia memiliki reputasi yang menakutkan karena diduga menjadi otak di balik tindakan keras terhadap gerakan protes Green Movement pada tahun 2009.
Baca Juga:
Iran Siap Perang Panjang! Ancaman Teheran Disebut Bisa Hancurkan Ekonomi Dunia
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung bereaksi keras atas penunjukan ini dan menyatakan keraguannya terhadap masa depan perdamaian di kawasan tersebut. Trump mengaku kecewa.
"Saya sangat kecewa dengan pemilihan pemimpin baru ini. Saya tidak percaya dia bisa hidup dalam perdamaian," tegas Trump dalam wawancaranya bersama Fox News.
2. Koneksi Erat dengan Garda Revolusi (IRGC)
Baca Juga:
Mengejutkan! Perancis Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal
Kekuatan utama Mojtaba terletak pada hubungan industrial dan militernya dengan IRGC, lembaga militer paling elit di Iran yang memiliki 200.000 personel. Tanpa dukungan penuh dari garda ini, mustahil baginya untuk naik takhta menggantikan sang ayah.
Selama puluhan tahun, ia beroperasi di balik layar sebagai koordinator utama antara kantor pemimpin agung dengan unit intelijen dan komandan militer. Di tengah spekulasi mengenai perpecahan di internal kepemimpinan Iran pasca serangan AS, pemerintah Iran menegaskan bahwa seluruh elemen negara tetap solid.
"Seluruh bangsa akan bersatu di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei dalam menghadapi tekanan asing," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei.