Growler juga dipersenjatai rudal anti-radiasi yang dirancang untuk mendeteksi, mengunci, dan menghancurkan radar musuh secara langsung.
Selain itu, badan pesawat dipenuhi peralatan peperangan elektronik yang sebagian besar dibawa dalam pod besar di bawah sayap dan bagian perut pesawat.
Baca Juga:
Adu Mulut Berujung Peluru, Empat Personel Brimob Diamankan Polda Sultra
Pesawat ini dioperasikan oleh dua awak, dengan satu personel khusus bertugas sebagai ahli peperangan elektronik.
Pada 2021, harga satu unit Growler diperkirakan mencapai 67 juta dollar AS atau setara sekitar Rp 1,1 triliun.
“Meski Amerika Serikat bisa dengan mudah terbang masuk ke wilayah Venezuela, operasi ini dilakukan terhadap lawan dengan sistem pertahanan udara yang terbatas,” ujar analis pertahanan Agency Partners, Nick Cunningham.
Baca Juga:
Gus Alex Resmi Jadi Tersangka, KPK Buka Babak Baru Kasus Korupsi Haji
Namun demikian, ia menilai pendekatan serupa belum tentu efektif jika diterapkan terhadap negara dengan kemampuan militer setara dan persenjataan canggih seperti Rusia atau China.
Peperangan elektronik sejatinya bukan konsep baru, karena Angkatan Laut Inggris telah melakukan pengacauan dan penyadapan komunikasi radio sejak awal abad ke-20.
Bagi Amerika Serikat, konflik di Afghanistan dan Timur Tengah selama dua dekade terakhir relatif minim membutuhkan peperangan elektronik skala besar.