Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa Pentagon mulai mengabaikan bidang strategis ini.
Situasi berubah drastis ketika perang Ukraina pecah dan secara luas dianggap sebagai konflik peperangan elektronik terbesar dalam sejarah modern.
Baca Juga:
Adu Mulut Berujung Peluru, Empat Personel Brimob Diamankan Polda Sultra
Sejak saat itu, militer Amerika Serikat mempercepat upaya pengembangan dan modernisasi kemampuan peperangan elektroniknya.
Di Ukraina, penggunaan drone secara masif membuka peluang luas untuk mengacaukan, memalsukan, dan memanipulasi sinyal komunikasi serta navigasi.
Rusia disebut telah mengembangkan keahlian khusus dalam bidang ini dan bahkan mampu mengganggu sistem buatan Amerika Serikat seperti HIMARS.
Baca Juga:
Gus Alex Resmi Jadi Tersangka, KPK Buka Babak Baru Kasus Korupsi Haji
Gangguan tersebut dilakukan dengan cara sederhana namun efektif, yakni membombardir drone atau roket dengan sinyal pengacau yang memutus koneksi ke operator atau panduan satelit.
Meski begitu, hampir semua pesawat tempur modern kini telah dilengkapi sistem peperangan elektronik, terutama untuk menjaga komunikasi internal mereka tetap aman.
Peperangan elektronik kini menjelma menjadi salah satu sektor paling menguntungkan dalam industri pertahanan global.