Kondisi tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa Pentagon mulai mengabaikan bidang strategis ini.
Situasi berubah drastis ketika perang Ukraina pecah dan secara luas dianggap sebagai konflik peperangan elektronik terbesar dalam sejarah modern.
Baca Juga:
Swadaya, Warga Huta Rakyat Dairi Gotong Royong Perbaiki Longsor
Sejak saat itu, militer Amerika Serikat mempercepat upaya pengembangan dan modernisasi kemampuan peperangan elektroniknya.
Di Ukraina, penggunaan drone secara masif membuka peluang luas untuk mengacaukan, memalsukan, dan memanipulasi sinyal komunikasi serta navigasi.
Rusia disebut telah mengembangkan keahlian khusus dalam bidang ini dan bahkan mampu mengganggu sistem buatan Amerika Serikat seperti HIMARS.
Baca Juga:
Remaja 15 Tahun Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sampang, Pelakunya 27 Pria
Gangguan tersebut dilakukan dengan cara sederhana namun efektif, yakni membombardir drone atau roket dengan sinyal pengacau yang memutus koneksi ke operator atau panduan satelit.
Meski begitu, hampir semua pesawat tempur modern kini telah dilengkapi sistem peperangan elektronik, terutama untuk menjaga komunikasi internal mereka tetap aman.
Peperangan elektronik kini menjelma menjadi salah satu sektor paling menguntungkan dalam industri pertahanan global.