WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat mengakui adanya kesalahan taktis menjelang pecahnya perang melawan Iran setelah sebelumnya mengabaikan tawaran teknologi pertahanan dari Ukraina untuk menghadapi serangan drone.
Kesalahan tersebut berkaitan dengan keputusan yang tidak menindaklanjuti proposal teknologi anti-drone yang sempat ditawarkan oleh pemerintah Ukraina kepada Washington.
Baca Juga:
Trump Panik Soal Ranjau Iran di Selat Hormuz, Ancam Serangan Militer Besar
Dilaporkan oleh Axios pada Selasa (10/3/2026), pejabat Ukraina pada pertengahan tahun lalu pernah menawarkan teknologi untuk menghadapi drone serangan Iran jenis Shahed yang murah namun efektif dan sering digunakan dalam konflik modern.
Tawaran tersebut disampaikan dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 18 Agustus ketika Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mempresentasikan teknologi drone pencegat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam presentasi tersebut Zelensky bahkan menampilkan slide PowerPoint yang menjelaskan potensi ancaman drone Iran di Timur Tengah apabila konflik dengan Iran benar-benar pecah.
Baca Juga:
Trump Sesumbar Sudah Menang, Tapi Bingung Menentukan Akhir Perang Iran
Setelah presentasi tersebut, Trump disebut meminta timnya untuk mempelajari tawaran teknologi yang diajukan oleh Ukraina.
Namun dalam beberapa bulan berikutnya proposal tersebut tidak ditindaklanjuti oleh pemerintahan Amerika Serikat.
Sejumlah pejabat dalam pemerintahan saat itu bahkan menilai Zelensky hanya berusaha menarik perhatian melalui tawaran tersebut.
Kini seorang pejabat Amerika Serikat mengakui keputusan tersebut merupakan kekeliruan yang berdampak besar.
“Jika ada kesalahan taktis atau kekeliruan yang kami buat menjelang perang dengan Iran, inilah kesalahan itu,” kata seorang pejabat AS.
Drone Iran kini menjadi ancaman nyata bagi pasukan Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah serangan menggunakan drone Shahed bahkan dilaporkan telah menewaskan tentara Amerika di wilayah operasi militer.
Teknologi anti-drone milik Ukraina dinilai sebagai solusi yang jauh lebih murah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional yang digunakan di pangkalan militer Amerika dan sekutunya di kawasan tersebut.
Para pemimpin militer Amerika Serikat juga telah memberikan pengarahan kepada anggota parlemen pada pekan lalu mengenai ancaman drone Iran.
Dalam pengarahan tersebut mereka menyebut bahwa ancaman drone Iran ternyata lebih besar dari yang sebelumnya diperkirakan.
Sistem pertahanan udara Amerika dilaporkan tidak mampu mencegat seluruh drone yang masuk ke wilayah pangkalan militer.
Ukraina menyatakan bahwa Amerika Serikat kini telah meminta bantuan teknologi yang sebelumnya sempat ditolak.
Menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, negaranya telah mengirim drone serta para ahli untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
Di sisi lain Ukraina juga secara terbuka meminta negara-negara sekutu untuk meningkatkan pasokan rudal Patriot buatan Amerika Serikat.
Berbeda dengan pengakuan pejabat tersebut, Gedung Putih membantah bahwa pemerintah telah melakukan kesalahan besar sebelum perang melawan Iran.
“Serangan balasan Iran telah turun 90 persen karena kemampuan rudal balistik mereka sedang dihancurkan secara total,” kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.
Ia menegaskan bahwa kritik yang datang dari sumber anonim tidak mencerminkan kondisi sebenarnya dari operasi militer Amerika Serikat.
“Karakterisasi yang dibuat oleh sumber anonim pengecut ini tidak akurat dan menunjukkan bahwa mereka hanya melihat dari luar,” ujarnya.
Kelly juga menjelaskan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama militer Amerika telah mempersiapkan berbagai kemungkinan respons dari Iran sebelum konflik terjadi.
“Menteri Hegseth dan angkatan bersenjata melakukan pekerjaan luar biasa dalam merencanakan semua kemungkinan respons dari rezim Iran, dan keberhasilan tak terbantahkan dari Operasi Epic Fury berbicara dengan sendirinya.”
Selain meminta bantuan dari Ukraina, Amerika Serikat juga mulai mengembangkan teknologi drone murah sebagai tandingan bagi taktik Iran.
Militer Amerika diketahui telah memperkenalkan drone baru bernama Lucas yang dirancang meniru konsep drone Shahed milik Iran yang berbiaya rendah.
Di sektor swasta, putra-putra Presiden Donald Trump yakni Eric Trump dan Donald Trump Jr dilaporkan mendukung sebuah perusahaan drone berbasis di Florida yang berpotensi memasok teknologi tersebut kepada militer.
Meski menghadapi ancaman drone Iran, pemerintah Amerika Serikat tetap menegaskan bahwa kemampuan militer Iran telah dilemahkan secara signifikan.
Pemerintahan Trump juga menyatakan bahwa konflik tersebut diperkirakan akan segera berakhir meskipun rincian rencana penghentian perang belum dijelaskan secara terbuka.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]