India berdalih serangan itu sebagai respons atas aksi teror di Pahalgam, Jammu dan Kashmir yang dikelola India, pada 22 April, yang menewaskan 26 wisatawan Hindu.
New Delhi menuduh kelompok militan yang berbasis di Pakistan sebagai pelakunya.
Baca Juga:
Aib Besar di Langit Kashmir: Rafale India Seharga Rp4 Triliun Kandas Dihantam PL-15
Sebagai balasan, Pakistan menembak jatuh enam jet tempur India, termasuk tiga unit Rafale, dan sejumlah drone militer.
Dalam empat hari konflik intens itu, sedikitnya 11 tentara dan 40 warga sipil Pakistan dilaporkan tewas akibat serangan India.
Pada Sabtu, Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata setelah Pakistan melancarkan operasi balasan besar-besaran yang diberi nama “Operasi Bunyan-um-Marsoos.”
Baca Juga:
Pemangkasan Dana USAID Ancam Kehidupan Jutaan Anak di Afrika dan Asia Selatan
Melalui rudal presisi jarak jauh seri Fatah dan amunisi berpemandu milik PAF, Pakistan menghantam 26 target militer India, termasuk fasilitas yang digunakan untuk menyerang warga sipil serta perusahaan yang dituduh mendanai aksi teror di wilayah Pakistan.
Hari ini, Wakil Perdana Menteri Dar menyatakan bahwa gencatan senjata yang dimediasi AS resmi diperpanjang hingga 18 Mei 2025.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.