WahanaNews.co | Bandar Schiphol, Amsterdam, masih kalang kabut akibat kekurangan tenaga kerja di bandara yang terjadi sejak akhir September lalu.
Salah satu bandara tersibuk Eropa pun kerepotan mengatasi kekacauan selama beberapa waktu ke belakang.
Baca Juga:
BPK Perwakilan Sumut Terima LKPD Unaudited TA 2025 dari Pemkab Karo Tepat Waktu Sesuai Amanat Undang-Undang
Minimnya tenaga kerja terus memicu kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya di bandara.
Kekacauan itu mendorong banyak pelancong bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi di bandara tersebut.
Bandara Schiphol diketahui telah membatasi kapasitas penerbangan. Kondisi ini memicu kemarahan sejumlah maskapai, terutama KLM.
Baca Juga:
Arus Mudik Lebaran Usai, PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025
KLM menyebut situasi ini sebagai 'situasi tanpa harapan dan tidak memiliki perspektif apa pun'.
Kekacauan tersebut, diklaim KLM, merusak reputasinya dan menimbulkan kerugian lebih dari 100 juta euro atau sekitar Rp1,4 triliun.
Mengutip CNN, selama musim panas, beberapa maskapai, termasuk Malta Air, TUI, dan Transavia, memilih untuk mengalihkan penerbangan dari Bandara Schiphol ke bandara lainnya.