"Saya ingin memberi tahu ibu saya
bahwa anak-anak saya, yang semuanya dekat dengannya, baik-baik saja. Saya
datang ke sini untuk berterima kasih kepadanya bahwa keluarga kami hidup dengan
aman," kata Niizuma, 47 tahun.
Sebelum berangkat kerja, Niizuma
dengan tenang berdoa di sebuah monumen batu di kuil kecil dengan ukiran nama
ibunya, Mitsuko, dan 65 orang lainnya yang meninggal dalam gempa tersebut.
Baca Juga:
Gempa M 7,6 Guncang Wilyah Sulut: Peringatan Tsunami Hingga Radius 1000 Km
Pada hari gempa bumi yang terjadi 10 tahun lalu itu, Mitsuko sedang menjaga anak-anak
Niizuma.
Anak-anak itu
bergegas masuk ke dalam mobil. Sementara Mitsuko tersapu ombak saat dia kembali
ke rumah untuk mengambil barang-barang miliknya.
Butuh waktu sebulan untuk menemukan
jenazah Mitsuko.
Baca Juga:
M 7,6 Guncang Laut Sulut, BMKG Peringatkan Gelombang Tsunami hingga 1.000 Km
Mengenang para korban, Kaisar Naruhito dan Perdana Menteri Yoshihide Suga dijadwalkan
untuk memberikan penghormatan kepada para korban tewas pada upacara peringatan
bencana gempa dan tsunami tersebut di Tokyo, sementara beberapa acara
peringatan lainnya direncanakan diadakan di timur laut Jepang, yang terkena
dampak gempa paling parah.
Jepang kembali memperdebatkan
penggunaan energi nuklir dalam bauran energinya karena negara miskin sumber
daya itu bertujuan untuk mencapai netralitas karbon bersih pada 2050 untuk
melawan pemanasan global.
Apalagi, survei yang dilakukan televisi
publik NHK menunjukkan bahwa 85
persen warga khawatir tentang kemungkinan terjadinya kembali kecelakaan PLTN.