WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah Indonesia bergerak cepat melakukan diplomasi intensif dengan Iran untuk memastikan kapal-kapal berbendera Indonesia tetap dapat melintas dengan aman di Selat Hormuz yang kini menjadi salah satu jalur laut paling rawan di dunia akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Langkah diplomatik tersebut dilakukan menyusul meningkatnya risiko keamanan di jalur logistik global yang sangat vital bagi perdagangan energi dan transportasi internasional.
Baca Juga:
Perang Iran Bisa Panjang, Sejarah Romawi-Persia 600 Tahun Jadi Peringatan Dunia
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Yvonne Mewengkang mengatakan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran terus menjalin komunikasi dengan otoritas Iran untuk memastikan kapal Indonesia dapat melintasi perairan strategis tersebut dengan aman.
"Kita terus melakukan pendekatan diplomatik yang intens dengan otoritas Iran guna memastikan kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman," ujar Yvonne dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Upaya diplomasi tersebut juga berkaitan dengan keselamatan operasional sejumlah kapal berbendera Indonesia yang berlayar di kawasan itu, termasuk kapal milik Pertamina seperti Pride dan Gamsunoro.
Baca Juga:
Iran Siap Perang Panjang! Ancaman Teheran Disebut Bisa Hancurkan Ekonomi Dunia
"Kita akan terus push karena ini merupakan isu yang sangat krusial untuk kita," tambah Yvonne.
Selain memastikan keselamatan pelayaran, pemerintah Indonesia juga terus mendorong stabilitas kawasan agar konflik di Timur Tengah tidak semakin meluas.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri lainnya, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyatakan bahwa stabilitas jalur transportasi laut merupakan kepentingan global yang harus dijaga bersama oleh negara-negara dunia.
"Indonesia melihat bahwa akses untuk transportasi laut ini penting bagi seluruh dunia," tegas Nabyl.
Ia menjelaskan bahwa konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah memberikan dampak luas bagi banyak negara karena jalur laut tersebut menjadi salah satu arteri utama perdagangan dunia.
"Artinya di sini kita melihat dengan kondisi yang terjadi di Timur Tengah, banyak efek yang luas yang dialami oleh berbagai negara, dan kita berharap mendorong agar solusi dilakukan secara damai," lanjutnya.
Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau kondisi warga negara Indonesia yang berada di kawasan tersebut.
Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Heni Hamidah menyampaikan bahwa hingga kini tiga warga negara Indonesia yang merupakan kru kapal dan dilaporkan hilang di Selat Hormuz masih dalam proses pencarian.
"Otoritas setempat masih terus melakukan pencarian selama 24 jam," jelas Heni.
Proses pencarian tersebut dilakukan secara intensif oleh pihak berwenang di wilayah setempat hingga ada keputusan resmi mengenai penghentian operasi pencarian.
"Mereka tidak akan berhenti sampai pihak pemerintah setempat menyatakan pencarian dihentikan secara resmi," ujarnya.
Pemerintah Indonesia juga menyatakan belum menerima laporan resmi terkait penyebab pasti insiden yang menyebabkan hilangnya para kru kapal tersebut.
"So far masih belum ada lagi laporan apakah ada WNI kita yang terjebak di Selat Hormuz," pungkas Heni.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]