WAHANANEWS.CO, Jakarta - Jet tempur siluman F-35 milik Inggris menghadapi ancaman serius setelah masalah korosi memaksa Kementerian Pertahanan Inggris mengakui kesiapan operasional armada andalannya akan menurun dalam waktu dekat.
Peringatan tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan Inggris melalui surat Sekretaris Permanen Jeremy Pocklington kepada Komite Akun Publik Inggris tertanggal 30 April 2026.
Baca Juga:
Prestasi Gemilang Berakhir di Tahanan, Kasat Narkoba Kukar Ditangkap karena Narkoba
Dalam surat itu, Pocklington menjelaskan bahwa korosi yang diperparah oleh paparan lingkungan maritim telah menjadi masalah yang semakin serius bagi armada F-35.
Ia menegaskan persoalan tersebut berdampak langsung terhadap ketersediaan pesawat dan akan membutuhkan penanganan berkelanjutan sepanjang masa operasional program F-35.
“Seiring meningkatnya aktivitas perawatan, penurunan kesiapan operasional dalam jangka pendek diperkirakan akan terjadi guna mengatasi penumpukan pekerjaan yang ada.”
Baca Juga:
Suami Wajib Cari Nafkah Digugat ke MK, Aturan Istri Urus Rumah Dipersoalkan
Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan masalah ini tidak hanya dialami Inggris, tetapi juga seluruh negara pengguna F-35 di dunia.
Sebagai langkah penanganan, Inggris meningkatkan pengawasan korosi di skuadron garis depan dan melakukan inspeksi mendalam bersama mitra industri dari Inggris dan Amerika Serikat.
Pemerintah Inggris juga mendorong pengembangan material yang lebih tahan korosi serta meminta Joint Program Office F-35 dan industri untuk menciptakan respons yang cepat, lincah, dan terkoordinasi.
Pengakuan ini menjadi sorotan karena laporan Komite Akun Publik pada Oktober 2025 telah menunjukkan tingkat kesiapan F-35 Inggris masih berada di bawah target nasional maupun target global program tersebut.
Masalah korosi semakin parah selama Operasi HIGHMAST ketika kelompok tempur kapal induk Inggris dikerahkan ke Timur Tengah.
Penugasan maritim yang berkepanjangan disebut memperburuk korosi dan memperpanjang waktu pemulihan pesawat setelah kembali dari operasi.
Pengalaman tersebut kini menjadi bahan evaluasi untuk penugasan berikutnya, termasuk pengerahan awal 2026 ke Siprus.
Korosi merupakan ancaman utama bagi pesawat berbasis kapal induk karena udara asin dan kelembapan tinggi mempercepat kerusakan struktur serta lapisan pelindung.
Bagi F-35, ancaman ini jauh lebih serius karena pesawat tersebut mengandalkan lapisan penyerap radar atau Radar Absorbent Material (RAM) untuk mempertahankan kemampuan silumannya.
Kerusakan pada lapisan RAM dapat meningkatkan pantulan radar sehingga F-35 menjadi lebih mudah terdeteksi sistem pertahanan udara lawan.
Korosi juga dapat mengganggu presisi bentuk permukaan pesawat yang dirancang khusus untuk memantulkan gelombang radar ke arah tertentu.
Kondisi tersebut membuat lebih banyak pesawat harus menjalani perawatan intensif sehingga mengurangi jumlah unit yang siap tempur setiap saat.
Perawatan F-35 disebut jauh lebih rumit dibanding jet tempur konvensional karena teknisi tidak hanya memperbaiki kerusakan fisik, tetapi juga harus memulihkan karakteristik stealth pesawat.
Laporan Reuters pada Desember 2025 menyebut tingkat kesiapan armada F-35 Amerika Serikat pada 2024 hanya sekitar 50 persen akibat persoalan maintenance dan sustainment.
Direktur pengembangan bisnis F-35 Lockheed Martin, Edward Smith, menegaskan pentingnya dukungan logistik yang memadai.
“To maintain a fleet at any given readiness level, you have to fully fund your supply system.”
Senior fellow Stimson Center, Dan Grazier, juga menyoroti lapisan stealth sebagai salah satu faktor yang membuat perawatan F-35 sangat kompleks.
“Its stealth coating to evade radar detection requires a lot of maintenance.”
Program Joint Program Office F-35 pada Mei 2025 mengakui korosi menjadi tantangan serius bagi armada global dan tengah mengembangkan lapisan baru yang lebih tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.
Selain material siluman yang sensitif, F-35 juga membutuhkan hanggar khusus, teknisi terlatih, dan fasilitas maintenance berstandar tinggi.
Kondisi inilah yang membuat biaya operasional dan sustainment F-35 menjadi salah satu yang tertinggi di dunia untuk kategori jet tempur modern.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]