Namun Soylu menyalahkan militan Kurdi, Partai Pekerja Kurdistan (PKK), sebagai dalang yang bertanggung jawab atas ledakan itu.
PKK yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Ankara dan negara-negara Barat, dilaporkan terus melakukan pemberontakan mematikan demi pemerintahan Kurdi yang mereka perjuangkan di wilayah Turki bagian tenggara sejak tahun 1980-an silam.
Baca Juga:
Indonesia dan Turki Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Ekspor Komoditas Pertanian
"Penilaian kami adalah perintah untuk serangan teror mematikan itu datang dari Ayn al-Arab (Kobane) di Suriah bagian utara, di mana PKK memiliki markas di Suriah," ucap Soylu dalam pernyataannya.
"Kami akan membalas mereka yang bertanggung jawab atas serangan teror keji ini," tegasnya.
Presiden Recep Tayyip Erdogan, dalam konferensi pers pada Minggu (13/11) waktu setempat, menyebut ledakan itu sebagai 'serangan keji' dan menyebut ledakan itu 'berbau seperti terorisme'.
Baca Juga:
Trump Tegaskan Warga Palestina yang Pergi dari Gaza Tak Bisa Kembali
Sesaat sebelum terbang ke Bali untuk menghadiri KTT G20, Erdogan menuturkan bahwa informasi awal menyebut 'seorang wanita memainkan peran' dalam ledakan itu.
Menteri Kehakiman Turki Bekir Bozdag, secara terpisah, menuturkan kepada televisi lokal A Haber bahwa seorang wanita terlihat duduk di salah satu bangku yang ada di Istiklal Street selama lebih dari 40 menit.
Bozdag menyebut ledakan terjadi beberapa menit setelah wanita itu berdiri dan meninggalkan area itu.