Presiden Saied telah membenarkan tindakannya itu, akan
tetapi dia menolak tuduhan bahwa telah melakukan "kudeta".
Dia mengatakan dia bertindak dalam konstitusi yang
memungkinkan kepala negara untuk mengambil tindakan luar biasa yang tidak
ditentukan bahkan dalam "ancaman yang akan segera terjadi".
Baca Juga:
Jelang Ramadan 2024, Impor Kurma ke Indonesia Meningkat
Pada hari Jumat, dia menekankan dia "membenci
kediktatoran" dan bahwa "tidak ada yang perlu ditakuti" mengenai
kebebasan dan hak di Tunisia.
Saied juga telah menyatakan tindakan keras terhadap korupsi,
menuduh 460 pengusaha melakukan penggelapan.
Penangkapan terbaru ini terjadi ketika Amerika Serikat
meminta Tunisia untuk segera kembali ke "jalur demokratisnya". [dhn]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.