Sementara itu, nada sedikit berbeda diungkapkan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang menyatakan bahwa konflik bisa meningkat tajam jika Teheran tidak menyepakati kesepakatan damai.
"Kami memiliki makin banyak opsi, dan mereka memiliki semakin sedikit. Hanya dalam satu bulan kami menetapkan syarat, beberapa hari ke depan akan menjadi penentu," kata Hegseth di Washington.
Baca Juga:
Presiden Trump Hadapi Tenggat 60 Hari Soal Iran, Harga Minyak Tembus US$114 per Barel
"Iran mengetahui itu, dan hampir tidak ada yang bisa mereka lakukan secara militer mengenai hal itu," imbuhnya.
Pernyataan tersebut langsung dibalas oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang mengeluarkan ancaman baru terhadap perusahaan-perusahaan AS di kawasan mulai Rabu. Garda Revolusi menyebut 18 bisnis, termasuk Microsoft, Google, Apple, Intel, IBM, Tesla, dan Boeing sebagai target potensial.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan ia menerima pesan langsung dari utusan khusus AS Steve Witkoff, namun menegaskan bahwa itu bukan negosiasi resmi.
Baca Juga:
Prediksi Mossad Meleset, Kejayaan di Perang Iran ‘Mimpi’
Ia mengatakan pesan tersebut mencakup ancaman atau pertukaran pandangan yang disampaikan melalui "teman".
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.